Submitted by admin on Tue, 05/25/2021 - 16:50

Sesungguhnya manusia yang memiliki puncak ketinggian tertinggi dan paling sempurna adalah Rasulullah shalallahu alaihi wassalam. Allah telah memanajemen Rasul-Nya shalallahu alaihi wassalam dengan al-qadha al-kauni (ketetapan Allah terhadap segala hal yang terjadi di alam ini) dalam berbagai macam peristiwa-peristiwa pilihan yang beliau sangat mencintai ketentuan Allah subhanahu wa ta’ala tersebut.

Namun pada saat yang sama dengan ketetapan al-qadha al-kauni, beliau tidak keluar dari bingkai sebagai seorang manusia yang menerima hukum ketentuan-ketentuan sebagai manusia dalam perilaku dan kehidupan. Maka kepribadian nabawi mengumpulkan ikhtiar sebagai seorang manusia yang memiliki keinginan dan perilaku, mempunyai sifat mencintai, membenci, ridha, marah, maaf dan menghukum selaras dengan keinginan Allah dengan cinta dan ridha.

Manusia agar dapat mencapai posisi puncak yang mengumpulkan seluruh iradah hamba dengan berikhtiar yang selaras dengan iradah Allah ta’ala dalam cinta dan penerimaan iradah Allah itu, harus mewujudkan tuntutan penting; yaitu merestorasi kepribadian bersama iradah yang dimilikinya dengan cara memurnikan fitrah manusiawi dari kerusakannya agar kembali pada keseimbangan awal yang sempurna dan nol dari cacat.

Rasulullah shalallahu alaihi wassalam adalah manusia yang memiliki kehendak, dan setiap kehendak memiliki ikhtiar. Manusia diciptakan dengan fitrah yang seimbang selamat dari cacat. Tetapi dalam perjalanan kehidupannya, fitrahnya ini bisa berubah, berganti dan memiliki kekurangan. Untuk mengembalikan iradah manusia pada apa yang diinginkan Allah agar mencapai puncak ketinggian manusia harus melakukan perbaikan pada fitrah ini agar kembali pada fitrah yang seimbang semula.