Submitted by admin on Wed, 04/27/2022 - 08:25

Allah ta’ala berfirman:

فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ

“Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain).” (Asy-Syarah: 7)

Kesulitan dan kemudahan silang berganti sepanjang kehidupan setiap orang. Selama itu, dia akan menemukan kemudahan lebih dominan daripada kesulitan tanpa dia sadari. Takdir Allah sarat hikmah yang disebutkan dalam firman-Nya:

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (Asy-Syura: 30)

Memahami hikmah-hikmah silang bergantinya takdir kemudahan dan kesulitan akan membuat hamba isitqamah dalam ketaatan tatkala menghadapi berbagai macam ujian. Posisi hamba berada antara dua kondisi:

  1. Menerima ujian dan menghadapinya dengan kesabaran.
  2. menerima kenikmatan dan menghadapinya dengan syukur.

Inilah yang membuat kehidupan manusia itu memiliki sifat khusus yang unik. Sifat manusia tidak terlepas antara sibuk dengan waktu kosong atau antara penat dan istirahat yang terus menerus bergantian. Sebagai mukmin, waktu sibuk dan kosong atau penat dan rehat selalu dihiasi dengan ibadah yang menjadi syiar kehidupannya. Dia tidak meninggalkan ibadah yang sesuai dengan kondisi kehidupan sebelumnya, ketika kondisi berubah dia juga melakukan ibadah yang pas dengan kondisi berikutnya dalam rangka menjalankan perintah Allah ta’ala:

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Katakanlah: sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam.” (Al-An’am: 162)

Terdapat dua fadhilah saat ibadah dilaksanakan terus menerus dalam berbagai macam situasi dan kondisi:

Pertama: Pelaku tidak kosong dari menjalankan perintah yang bermanfaat bagi dirinya sendiri. Orang yang mampu melakukannya adalah orang cerdas memiliki keunggulan di antara manusia lainnya yang dapat mencapai tujuan penciptaan dan menorehkan catatan kemuliaan sejarah.

Kedua: Ketaatan dan ibadah jika dilakukan dalam berbagai kondisi akan mengumpulkan sifat rasyid (kepemimpinan yang lurus dan adil) dan hidayah diniyah. Ini merupakan kesempurnaan yang diinginkan. Munculnya iradah kesemangatan merupakan tuntutan syariat melalui sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

واستعن بالله ولا تعجز

“Mintalah pertolongan pada Allah dan jangan patah semangat.” (Shahih Muslim)1

Iradah tersebut juga harus ditujukan fisabilillah yang merupakan maksud dari firman Allah di akhir surat ini:

وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ

dan hanya kepada Rabbmu engkau berharap. (Asy-Syarah: 8)

Siapa yang memperhatikan kehidupan al-habib al-mushthafa shallallahu ‘alaihi wasallam dan melihat kelebihan yang tampak di seluruh perjalanan hidupnya akan menemukan kekuatan iradah yang dimilikinya. Beliaulah satu-satunya orang yang dapat melakukan perubahan terbesar dalam seluruh sejarah perjalanan manusia. Dimulakan dengan membentuk sahabat-sahabat yang unggul dibidang ilmu sekaligus akhlak. Pada saat yang sama beliau juga sibuk teguh untuk dirinya sendiri dalam ketaatan dan ibadah. Melakukan ibadah puasa dan saat yang sama menjadi kepala rumah tangga membina keluarganya. Sebagai muhajir dan mujahid melakukan perjalanan jauh untuk bertempur dalam berbagai macam peperangan yang sangat banyak. Semua hal itu dikerjakan dalam waktu 23 tahun sepanjang umurnya yang barakah dan mulia. Memiliki iradah agung melaksanakan syariah firman Allah sebaik-baik pengamalan:

فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ

“Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain).” (Asy-Syarah: 7)

Pada semua sisi kehidupan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hanyalah al-haq, yang diwariskan kepada al-hawariyun para sahabatnya radhiyallahu anhum. Kesuksesan yang berhasil diraih dan ilmu serta amal yang berhasil ditanamkan pada para sahabat menunjukkan kesempurnaan iradah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hingga agama ini tersebar mencapai ujung dunia di timur dan barat dengan sarana yang ada. Andai kita melacak pergerakan salah satu dari mereka di muka bumi kita akan dibuat keheranan, semua prestasi tersebut terjadi di zaman unta dan kuda bukan di zaman mobil dan pesawat. Pada saat yang sama mereka juga menekuni ilmu, taklim dan ibadah serta melaksanakan kewajibannya sebagai kepala keluarga yang memiliki banyak istri, anak dan pula tidak melalaikan perdagangan untuk mencari nafkah. Semua perkara itu tercipta dari iradah melaksanakan ayat agung:

فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ

“Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain).” (Asy-Syarah: 7)

Iradah yang menghasilkan amal yang menakjubkan tersebut juga terwariskan menurun kepada ulama, dai dan ahli ibadah. Tidak ditemukan dalam kehidupan mereka kesia-siaan, kemalasan, kelalaian, senda gurau dan permainan. Semua kehidupan mereka dilalui dengan ilmu dan amal yang terus menerus tanpa henti. Sungguh anda akan heran bagaimana mereka bisa mewujudkan kesempurnaan dengan umur pendek dan perangkat yang minim. Semoga Allah merahmati dan meridhai mereka semua.

Inilah Imam Asy-Syafi’i rahimahullah usianya 55 tahun menjadi imam dalam bidang fikih, hadits, bahasa dan syair. Beliau mengelilingi Syam ke Hijaz, Yaman lalu kembali ke Irak bolak balik kemudian menuju Mesir dan meninggal di sana.

Imam An-Nawawi, umurnya hanya 45 tahun yang mewariskan ilmu dan banyak karya di saat yang sama sibuk dengan ibadah, shalat dan puasa. Masih saja sibuk setiap hari belajar dengan 12 syeikh dengan materi berbeda.

Perkara ini merupakan cita-cita yang tinggi, iradah kuat, tamak dalam memanfaatkan waktu dan melaksanakan kebaikan dalam segala kondisi dan situasi yang merupakan mutiara ulama dalam sejarah kita. Kisah-kisah mereka yang menceritakan iradah ini sangat ajaib bahkan ketika sekarat atau sakit ditemukan iradah itu. Sebagaimana disebutkan kisah tentang Qadhi Abu Yusuf2 yang mendiskusikan fikih haji dengan muridnya Ibrahim bin Al-Jarah di atas pembaringan ketika beliau sekarat. Demikian pula disebutkan mengenai Ibnu Malik An-Nahwi pengarang Kitab Alfiyah, beliau menghafal 80 bait syair di hari kematiannya.

Seluruh sisi kehidupan mereka dari safar, makan memelihara waktu dan kesibukannya untuk ilmu dan ibadah menunjukkan kesempurnaan iradah mereka rahimahumullah ta’ala. Iradah yang mereka miliki muncul karena kefakihan mereka pada Al-Quran dengan pemahaman yang mantap; membuat mereka memiliki kesemangatan dalam menegakkan amal secara kontinu. Bahkan di waktu istirahat mereka tidak kosong dari iradah yang membuahkan manfaat dan hasil. Karena itu Imam Bukhari berkata:

لا فعل إلا بقصد

Tidak ada perbuatan tanpa tujuan.

Maksudnya tidak ada perbuatan tanpa niat amal shalih. Seperti itulah hari-hari mereka lalui tanpa mengenal kesia-siaan dan kemalasan. Sehingga terealisasi kehidupan dengan iman sebagai pondasi kokoh yang kemudian menghasilkan ilmu dan amal shalih. Semua itu mereka lakukan sebagai manusia biasa yang kadang gagal kadang sukses, harus memenuhi kebutuhan keluarga dan pelayanan lainnya, kadang berada dalam kesempitan yang luar biasa dan kelapangan yang sangat luas, kadang menderita dan bahagia. Maka pantaslah mereka berhak menyandang gelar sebaik-baik umat yang dikeluarkan.


  1. Syeikh Abu Qatadah semoga Allah ta’ala menjaganya dari setiap makar telah mensyarah hadits ini dengan judul: هدية أهل الإيمان في أن «لو» تفتح عمل الشيطان. Anda dapat menemukannya di website Mimbarut Tauhid wal Jihad.

  2. (note: Yaqub bin Ibrahim bin Sa’ad Al-Anshary Al-Kufy murid Abu Hanifah rahimahumallah ta’ala, wafat 182 dalam usia 69 th di zaman kekhilafahan Harun Ar-Rasyid)