Submitted by admin on Wed, 05/11/2022 - 01:52

Sebab itu hendaknya setiap orang berharap (raghbah)1 kepada perjumpaan dengan Rabbnya seperti dalam hadits:

مَنْ أحَبَّ لِقَاءَ اللهِ أَحَبَّ اللهُ لِقَاءهُ

“Siapa yang mencintai bertemu Allah maka Allah akan mencintai bertemu dengannya.” (Al-Bukhari Muslim)

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diberikan pilihan antara dunia dan akhirat beliau memilih pengharapan berjumpa dengan Rabb dengan sabdanya:

بل الرفيق الأعلى

“Tetapi aku memilih Allah yang Maha Tinggi.” (As-Sunan Al-Kubra An-Nasai, Shahih Ibnu Hiban)

Dalam hadits lainnya beliau menceritakan kisahnya sendiri:

إِنَّ عَبْدًا عُرِضَتْ عَلَيْهِ الدُّنْيَا وَزِينَتُهَا فَاخْتَارَ الْآخِرَةَ

“Sesungguhnya ada seorang hamba diperlihatkan kepadanya dunia dan perhiasannya, kemudian ia justru memilih akhirat.” (Sunan Ad-Darimi, Shahih Ibnu Hiban, Mushanif Ibnu Abi Syaibah, Al-Mustadrak ala Ash-Shahihain. Al-Hakim berkata hadits ini shahih menurut syarat Al-Bukhari dan Muslim).

Mendamba kematian untuk berjumpa Rabbnya bukan keinginan tercela. Berharap kematian yang tercela adalah menginginkan kematian karena tidak sabar atas penderitaan.


  1. Raghbah (اَلرَّغْبَةُ) dapat diartikan sangat berharap tercapainya apa yang diinginkan. Menurut Asy-Syaikh 'Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa definisi raghbah adalah kecintaan untuk mencapai sesuatu yang dicintai. Raghbah bagian dari ar Raja' namun lebih khusus dan mengenai hal ini Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskannya dalam Kitab Madarijus Salikin berkata, “Perbedaan antara raghbah dan roja’ ialah bahwasanya raja’ itu kerakusan dalam pengharapan, sedangkan raghbah adalah usaha mengejar pengharapan tersebut. Oleh karena itu, bisa dikatakan bahwa raghbah merupakan buah dari raja’. Orang yang mengharapkan sesuatu akan mengejarnya.” -pent.↩︎