Submitted by admin on Tue, 06/22/2021 - 22:01

Orang berakal akan menjauhi dosa dengan beberapa alasan. Diantaranya karena perbuatan melakukan dosa merupakan pelanggaran batasan Allah ta’ala. Allah azza wa jalla memiliki sifat cemburu. Kecemburuannya itu saat seorang hamba melakukan perbuatan yang diharamkan Allah. Keluarnya seorang hamba dari peribadatan menghasilkan jeratan musuh atas manusia seperti firman Allah ta’ala mengenai sahabat radhillahu ‘anhum dalam perang Uhud:

إِنَّمَا اسْتَزَلَّهُمُ الشَّيْطَانُ بِبَعْضِ مَا كَسَبُوا

“Sesungguhnya mereka hanya digelincirkan oleh syaitan disebabkan sebagian dosa yang telah mereka perbuat.” (Ali Imran: 155)

Hamba yang berakal tidak akan mau menjadi hewan yang dikendarai musuhnya, sedang musuh yang paling besar yaitu setan. Salah satu rahasia-rahasia makna yang membuat seorang hamba melakukan dosa yaitu si hamba tidak memiliki rasa malu mengerjakan dosa tersebut. Karena dosa sebenarnya aurat. Maka hamba yang melakukan perbuatan dosa berarti tersingkaplah auratnya seperti yang terjadi pada kakeknya Adam ‘alaihissalam dalam firman Allah ta’ala:

فَلَمَّا ذَاقَا الشَّجَرَةَ بَدَتْ لَهُمَا سَوْآتُهُمَا

“Tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya.” (Al-Araf: 22)

Dosa memiliki sifat melemahkan dan memburukkan. Hamba berakal tidak akan mau melakukan perbuatan yang menyebabkan dirinya menjadi buruk dan tersingkap auratnya. Dia akan berusaha menutupi dirinya, apabila tersingkap jadilah ia menjadi rendah dan hina.

Orang yang berakal akan menjauhi dosa karena khawatir pada pengaruh dosa tersebut. Pengaruh pertama yang langsung turun adalah kemurkaan Rabb padanya. Padahal hamba itu tergantung pada keridhaan tuannya, dia akan berusaha tidak membuat tuannya marah. Dosa adalah kegelapan pada diri dan membuat cahayanya hilang. Dosa akan mematikan iradah hamba untuk melakukan ketaatan. Selain itu, dosa juga akan menyebabkan azab di akhirat.

Sebab itu suatu kenikmatan; hamba tidak terjerumus kedalam dosa dan Allah melindunginya dari melakukan perbuatan dosa. Sebagaimana yang terjadi pada hamba-hamba-Nya dari golongan muhsinin. Seperti perlindungan Allah pada Yusuf alaihissalam agar tidak melakukan perbuatan terecela:

كَذَلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاءَ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَ

“Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih.” (Yusuf: 24)

Allah juga melindungi ibu Musa ‘alaihissalam dengan firman-Nya:

وَأَصْبَحَ فُؤَادُ أُمِّ مُوسَى فَارِغًا إِنْ كَادَتْ لَتُبْدِي بِهِ لَوْلَا أَنْ رَبَطْنَا عَلَى قَلْبِهَا لِتَكُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

“Dan menjadi kosonglah hati ibu Musa. Sesungguhnya hampir saja ia menyatakan rahasia tentang Musa, seandainya tidak Kami teguhkan hatinya, supaya ia termasuk orang-orang yang beriman.” (Al-Qoshshos: 10)

Firman Allah pada Nabi-Nya Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam, khususnya pada para sahabat muhajirin dan anshar yang ikut perang Tabuk:

لَقَدْ تَابَ اللَّهُ عَلَى النَّبِيِّ وَالْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ الَّذِينَ اتَّبَعُوهُ فِي سَاعَةِ الْعُسْرَةِ مِنْ بَعْدِ مَا كَادَ يَزِيغُ قُلُوبُ فَرِيقٍ مِنْهُمْ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ إِنَّهُ بِهِمْ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang muhajirin dan orang-orang anshar yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan (Perang Tabuk), setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima taubat mereka itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka.” (At-Taubah: 117)