Submitted by admin on Sun, 05/30/2021 - 10:12

Karenanya, dengan keagungan-Nya, sesungguhnya seorang mukmin tatkala masuk kedalam cahaya ini tidak boleh lalai dari karakter cahaya dan janji ini; yaitu jiwanya, iradahnya dan akhlaknya. Inilah makna-makna seleksi. Karena sesungguhnya Al-Quran tidak memberikan janji kecuali itu pasti al-haq (kebenaran). Perkara ini telah ditafsirkan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wassalam di surat Al-Fatihah dalam hadits qudsi:

قسمت الصلاة بيني وبين عبدي

“Aku membagi shalat (menjadi dua bagian) untukku dan hambaKu.” (Shahih Muslim 4/85 No 829, 4/86 No 831

Pemberian Allah itu tidak akan terealisasi tanpa penerimaan. Jika wadah itu rusak akan pula merusak apa yang di dalam wadah tersebut.

Pada hadits dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma ia berkata:

عن ابن عباس -رضي الله عنهما- قال: بينما جبريل قاعد عند النبي. سمع نقيضًا من فوقه. فرفع رأسه فقال: «هذا باب من السماء فتح اليوم. لم يفتح قط إلا اليوم. فنزل منه ملك. فقال: هذا ملك نزل إلى الأرض. لم ينزل قط إلا اليوم. فسلم وقال: أبشر بنورين أوتيتهما لم يؤتهما نبي قبلك. فاتحة الكتاب وخواتيم سورة البقرة. لن تقرأ بحرف منهما إلا أعطيته»

“Tatkala Jibril duduk bersama Nabi, beliau mendengar suara panggilan dari atas. Beliau lalu mendongakkan kepalanya. Jibril berkata: ‘Pintu langit ini terbuka hari ini dan tidak akan terbuka kecuali hanya pada hari in’i. Lalu turun malaikat dari pintu itu. Jibril berkata: ‘Malaikat ini turun ke bumi dan tidak pernah turun kecuali hari ini’. Lalu malaikat itu memberi salam dan berkata: ‘Bergembiralah dengan dua cahaya yang keduanya tidak diberikan pada Nabi sebelummu, yaitu fatihatul kitab (surat Al-Fatihah) dan akhir surat Al-Baqarah. Sekali-kali engkau tidaklah membaca huruf-huruf dari keduanya kecuali akan diberi permintaanmu’.”

Siapa saja yang memperhatikan surat Al-Fatihah dan akhir surat Al-Baqarah akan melihat keduanya bukan hanya pemberian saja. Tetapi lebih dari itu pada keduanya terdapat perintah dan taklif (pembebanan syariat). Misalnya di akhir Al-Baqarah pada firman Allah:

آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ

“Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman.” (Al-Baqarah: 285)

Sampai firman-Nya ta’ala:

وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ

“Dan mereka mengatakan: ‘Kami dengar dan kami taat’.” (Al-Baqarah: 285)

Seperti dalam Al-Fatihah:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

“Hanya Engkaulah yang kami beribadah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.” (Al-Fatihah: 5)

Terungkap dalam ayat ini terdapat idad rabani (persiapan rabbani) untuk beramal bagi dien Allah ta’ala suatu bentuk pemantapan mental untuk membawa suatu cita-cita yang berat seperti firman Allah ta’ala:

إِنَّا سَنُلْقِي عَلَيْكَ قَوْلًا ثَقِيلًا

“Sesungguhnya Kami akan menurunkan kapadamu perkataan yang berat.” (Al-Muzzammil: 5)

Dari informasi ini diketahui akan muncul orang-orang yang berusaha untuk menghalang-halangi risalah dan memahamkan maksud risalah itu sendiri ketika melaksanakan misi menyampaikan Al-Quran. Juga melukiskan jejak-jejak perjalanan manusia serta berbaliknya dia mundur kebelakang dari perjuangan bersamaan dengan seleksi takdir bagi orang beriman yang merupakan bagian dari irodah Allah padanya. Demikian juga melukiskan jejak perjalanan orang-orang mukmin yang teguh dan konsisten beramal shalih sampai menemui yaqin (ajal).

Tags