Submitted by admin on Tue, 09/28/2021 - 13:34

Dari seluruh Rasul yang diutus, Rasul kita shallallahu 'alaihi wassalam mendapatkan derajat dari pemilihan nubuwah melebihi dan lebih utama dari nabi-nabi lain. Sebab beliau adalah sebaik-baik manusia dan sebaik-baik nabi. Salah satu kekhususan beliau yaitu Allah menjadikan seluruh perjanjian iman nabi untuk mengikuti nabi kita dan mengikuti syariatnya apabila menjumpainya, seperti firman Allah ta’ala:

وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ النَّبِيِّينَ لَمَا آتَيْتُكُمْ مِنْ كِتَابٍ وَحِكْمَةٍ ثُمَّ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَكُمْ لَتُؤْمِنُنَّ بِهِ وَلَتَنْصُرُنَّهُ قَالَ أَأَقْرَرْتُمْ وَأَخَذْتُمْ عَلَى ذَلِكُمْ إِصْرِي قَالُوا أَقْرَرْنَا قَالَ فَاشْهَدُوا وَأَنَا مَعَكُمْ مِنَ الشَّاهِدِينَ

“Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi, ‘Manakala Aku memberikan kitab dan hikmah kepadamu lalu datang kepada kamu seorang Rasul yang membenarkan apa yang ada pada kamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya.’ Allah berfirman, ‘Apakah kamu setuju dan menerima perjanjian dengan-Ku atas yang demikian itu?’ Mereka menjawab, ‘Kami setuju.’ Allah berfirman, ‘Kalau begitu bersaksilah kamu (para nabi) dan Aku menjadi saksi bersama kamu.’” (Ali-Imran: 81)

Ayat di atas merupakan anugerah raf’u dzikri (pemuliaan nama) yang paling agung bagi Rasulullah shallallahu 'alaihi wassalam, sebagaimana namanya di sebutkan sebagai kabar gembira di dalam Taurat dan Injil. Allah ta’ala berfirman:

الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ

“(Yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi (tidak bisa baca tulis) yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada pada mereka.” (Al-A’raf: 157)

Allah ta’ala berfirman mengenai Isa ‘alaihissalam:

وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَابَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِنْ بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ

“Dan (ingatlah) ketika Isa putra Maryam berkata, “Wahai Bani Israil! Sesungguhnya aku utusan Allah kepadamu, yang membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan seorang Rasul yang akan datang setelahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).” (Ash-Shaf: 6)

Salah satu bentuk pemuliaan nama Allah telah menjadikan azan untuk menyebut namanya shallallahu 'alaihi wassalam dan meninggikannya. Allah tidak pernah menjadikan azan dengan menyebut nama nabi sebelumnya pada kaum terdahulu. Dengan azan, Allah membuat suara dilantangkan memenuhi ufuk langit menyebut nama Rasulullah shallallahu 'alaihi wassalam tercinta.

Allah juga telah mengangkat nama nabi-Nya shallallahu 'alaihi wassalam dipenjuru tujuh langit dan dihadapan para malaikat, pula mengangkatnya pada makhluk-makhluk lain seperti bersalamnya batu dan hewan pada beliau seperti diriwayatkan dalam hadits.

Begitu juga, tidak ditemukan pada umat sebelumnya pengikut yang menyebut dan bershalawat pada nabinya. Kekshususan shalawat ini hanya dimiliki Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wassalam yang memiliki umat terbanyak sehingga umat ini menjadi umat yang terbanyak bershalawat pada nabinya dan mendapatkan keutamaan bershalawat seperti firman Allah ta’ala:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.” (Al-Ahzab: 56)

Pahala bershalawat pada Nabi tercinta seperti pahala dzikir lainnya yang dinilai sebagai ibadah seperti dalam hadits:

من صلى علىَّ صلاة؛ صلى الله عليه بها عشرًا

“Barangsiapa bershalawat padaku sekali, Allah akan membalas bershalawat padanya sepuluh kali.” (Muslim)

Pemuliaan nama yang diperoleh para nabi dengan menjadikan diri mereka sebagai uswah dalam beribadah serta contoh dalam akhlak yang diikuti oleh pengikutnya dari ulama dan orang-orang shadiqin.

Sekalipun umat memiliki harta kekayaan permisalan prikehidupan Rasulullah shallallahu 'alaihi wassalam yang ditemukan dalam hadits-hadits, tetap saja mereka membutuhkan uswah yang nyata yang dapat dilihat dan diraba dan hidup diantara mereka. Keberadaan uswah tersebut merupakan rahmat rabaniyah bagi hamba. Sebagaimana ketiadaan uswah merupakan azab seperti firman Allah ta’ala:

مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُرْشِدًا

“Barangsiapa diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa disesatkan-Nya, maka engkau tidak akan mendapatkan seorang penolong yang dapat memberi petunjuk kepadanya.” (Al-Kahfi: 17)

Karena itulah manusia di zaman Rasulullah shallallahu 'alaihi wassalam menirunya dan tidak berpaling pada selain beliau. Hanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wassalam mereka bertanya tentang agama. Tetapi ketika beliau wafat, beliau berwasiat untuk meniru orang-orang terbaik sepeninggal beliau:

اقتدوا بالذين من بعدي أبي بكر وعمر

“Ambilah contoh dengan orang-orang sepeninggalku yaitu Abu Bakar dan Umar.” (Sunan At-Tirmidzi. Abu Isa berkata, hadits ini hasan. Hadits diriwayatkan dari Ibnu Masud dan diriwayatkan oleh Tsufyan Ats-Tsauri dari Abdul Malik bin Umair dari budak Rabi’i dari Huzhaifah dari Nabi shallallahu 'alaihi wassalam)

Maka Al-Faruq mengerti jika dia harus mengikuti jalan Nabi shallallahu 'alaihi wassalam, dia juga mengerti harus mengikuti jalan Ash-Shidiq radhiyallahu anhu sepeninggal Nabi shallallahu 'alaihi wassalam. Sebab itu, baiat khalifah ketiga dipersyaratkan untuk mengikuti jalan kedua khalifah sebelumnya radhiyallahu ‘anhuma seperti disebutkan dalam Al-Quran:

فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

“Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (An-Nisa: 59)