Submitted by admin on Wed, 05/11/2022 - 01:35

Pemahaman lainnya dari ayat ini:

فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ

Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain). (Asy-Syarah: 7)

Yaitu panggilan untuk menegakkan al-haq dan melalui penderitaan yang hasil akhirnya hanya kebahagiaan, kesulitan yang menghasilkan kemudahan, kepayahan yang menghasilkan kelapangan. Dengan perkara itu akan terealisasi janji ilahi bagi mereka yang menegakkan al-haq setelah berganti-ganti melewati kesulitan dan kemudahan seperti dalam firman-Nya:

إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ۝ فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ

“Sesungguhnya bersama kesulitan itu terdapat kemudahan. Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain).” (Asy-Syarah: 6-7)

Maka orang yang menerima petunjuk bersemangat menegakkan al-haq walaupun didalamnya dijumpai kesulitan, sebab terdapat janji kepastian kemudahan setelah itu. Seperti yang dilakukan oleh ghulam dengan kembali mendatangi raja setelah berkali-kali selamat dari pembunuhan1 Inilah sifat yang melekat pada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sepanjang kehidupannya berhadapan dengan kaumnya, sifat yang juga melekat pada orang beriman dalam sabdanya:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِ كَالْخَامَةِ مِنْ الزَّرْعِ تُفَيِّئُهَا الرِّيحُ مَرَّةً وَتَعْدِلُهَا مَرَّةً وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ كَالْأَرْزَةِ لَا تَزَالُ حَتَّى يَكُونَ انْجِعَافُهَا مَرَّةً وَاحِدَةً

“Permisalan seorang mukmin seperti dahan di suatu pohon, terkadang angin menjadikannya bengkok dan terkadang berdiri, lurus. Sebaliknya permisalan orang munafik seperti tanaman padi yang senantiasa berdiri, hingga sekali ia jatuh, ia akan langsung roboh.” (Al-Bukhari)

Kesulitan yang menimpa seseorang karena melaksanakan amal iman tidak boleh menghancurkan iradahnya dengan tidak mau kembali lagi melaksanakan iman. Tetapi hendaknya dia kembali lagi dan terus kembali lagi. Tidak seperti orang-orang yang memiliki kerendahan iradah yang menahan dirinya kembali beramal setelah merasakan penderitaan yang menyebabkan cita-citanya loyo karena pengalaman percobaan pertama yang menyakitkan. Hendaknya seorang mukmin mengingat angan syuhada yang ingin kembali lagi ke dunia untuk berperang dan kembali terbunuh. Juga keinginan orang seorang shalih yang dibunuh Dajal kemudian Allah hidupkan kembali, maka Dajal bertanya:

ثُمَّ يَقُولُ لَهُ أَتُؤْمِنُ بِي فَيَقُولُ مَا ازْدَدْتُ فِيكَ إِلَّا بَصِيرَةً

“Apakah kamu beriman padaku?” Maka laki-laki shalih itu mengatakan, “Bashirahku justru bertambah bahwa dirimu adalah Dajal.” (Muslim)

Sedangkan orang-orang yang mengetuk wajah orang-orang dan para pemuda mukmin dengan mencegah kembali ke jalan amal perjuangan karena sebab derita percobaan pertama, mereka telah bodoh dengan ayat ini. Siapa yang memahami ayat ini justru akan kembali dan terus kembali beramal sampai terwujud janji Ilahi. Sedangkan orang-orang yang duduk menasihati pada jalan-jalan yang tercela hakikatnya mereka tidak memperoleh hasil dari percobaan mereka. Kemudian mereka menyangka sebagai orang yang berpengalaman berada di atas jalan al-haq, dakwah dan menganggap melawan kebatilan tidak akan menghasilkan apapun. Mereka dicela dengan firman Allah:

فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ

“Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain).” (Asy-Syarah: 7)

Seorang mukmin bukan hewan ternak tanpa iradah seperti yang dinyatakan oleh sebagian ahli psikologi yang tidak mengerti Al-Quran. Kaum mukmin adalah pemilik janji. Bisa jadi dia mengalami kegagalan berulang kali tetapi tidak menyerah sampai terwujud janji Allah ta’ala. Derita dalam perjalanan, kesulitan dan rintangan tidak membuatnya putus asa. Tetapi justru menjadi bahan bakar dan amunisi serta tuntutan pejuang seperti firman Allah:

وَكَأَيِّنْ مِنْ نَبِيٍّ قَاتَلَ مَعَهُ رِبِّيُّونَ كَثِيرٌ فَمَا وَهَنُوا لِمَا أَصَابَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَمَا ضَعُفُوا وَمَا اسْتَكَانُوا

Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut(nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar. (Ali-Imran: 146)


  1. Terdapat syarah hadits ini oleh Syeikh Abu Qatadah semoga Allah ta’ala menjaganya dan menambah ilmu, amal, pertolongan dan derajat tinggi dengan judul درك الهدى في اتباع الفتى↩︎