Submitted by admin on Tue, 06/22/2021 - 21:57

Allah ta’ala berfirman:

وَوَضَعْنَا عَنْكَ وِزْرَكَ ﴿٢﴾ الَّذِي أَنْقَضَ ظَهْرَكَ ﴿٣﴾

“2. Dan Kami telah meletakkan daripadamu bebanmu. 3. Yang memberatkan punggungmu?” (Al-Insyirah: 2-3)

Telah disebutkan sebelumnya, kelapangan dada yang terpuji didapatkan karena bersama al-haq. Tetapi sifat manusia bisa melakukan perbuatan dosa sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam:

كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

"Seluruh Bani Adam (manusia) banyak melakukan kesalahan (dosa), dan sebaik-baik manusia yang banyak kesalahannya (dosanya) adalah yang banyak bertaubat."1

Dan sabdanya shalallahu ‘alaihi wassalam yang lain:

إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ حَظَّهُ مِنْ الزِّنَا أَدْرَكَ ذَلِكَ لَا مَحَالَةَ

“Sesungguhnya Allah telah menetapkan bagian zina bagi anak keturunan Adam yang pasti ia jumpai.”2

Jadi yang merusak kelapangan ini adalah dosa, sebab merupakan kegelapan dan kesempitan seperti firman Allah ta’ala:

وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ

“Dan orang-orang yang kafir, wali-wali mereka adalah thaghut, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya menujut kegelapan.” (Al-Baqarah: 257)

Demikian pula firman Allah ta’ala mengenai putra Adam ketika membunuh saudaranya:

فَأَصْبَحَ مِنَ النَّادِمِينَ

“Karena itu jadilah dia seorang diantara orang-orang yang menyesal.” (Al-Maidah: 31)

Dan firman-Nya:

وَإِذَا خَلَوْا عَضُّوا عَلَيْكُمُ الْأَنَامِلَ مِنَ الْغَيْظِ

“Dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kamu.” (Ali Imran: 119)

Serta ayat-ayat lainnya dalam Al-Quran. Merupakan kesempurnaan kenikmatan, pemeliharaan iradah dan titik tolak dalam pencapaian ibadah, bahwa Allah mengampuni dosa-dosa besar bagi dai yang beramal. Karena itulah salah satu nikmat teragung pada Rasul-Nya shalallahu ‘alaihi wassalam ketika menerangkan nikmat kemenangan dan pertolongan Allah dalam firman-Nya:

إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا ﴿١﴾ لِيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ

“1. Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata. 2. supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang.” (Al-Fath: 1-2)

Dengan pencapaian keutamaan yang agung ini, tercapailah nikmat syukur seperti sabda Rasul kita shalallahu ‘alaihi wassalam pada ibunda kita Aisyah radhillahu ‘anha:

أفلا أكون عبدًا شكورًا

“Tidakkah sudah sepatutnya aku menjadi hamba yang bersyukur.”3

Kabar gembira para Nabi kepada kaumnya yang telah beriman yaitu tercapainya ampunan dan diangkat dosa sebagaimana kabar gembira Nuh ‘alaihissalam kepada umatnya:

أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاتَّقُوهُ وَأَطِيعُونِ ﴿٣﴾ يَغْفِرْ لَكُمْ مِنْ ذُنُوبِكُمْ

“3. (yaitu) ibadahilah Allah, bertakwalah kepada-Nya dan taatlah kepadaKu. 4 niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu.” (Nuh: 3-4)

Begitu pula firman ta’ala melalui lisan Nuh, Hud dan Shalih pada kaum mereka:

قَالَتْ رُسُلُهُمْ أَفِي اللَّهِ شَكٌّ فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يَدْعُوكُمْ لِيَغْفِرَ لَكُمْ مِنْ ذُنُوبِكُمْ

“Berkata rasul-rasul mereka: ‘Apakah ada keragu-raguan terhadap Allah, Pencipta langit dan bumi? Dia menyeru kamu untuk memberi ampunan kepadamu dari dosa-dosamu.’” (Ibrahim: 10)

Sedangkan perkataan jin pada kaumnya tatkala mendengar Al-Quran:

يَاقَوْمَنَا أَجِيبُوا دَاعِيَ اللَّهِ وَآمِنُوا بِهِ يَغْفِرْ لَكُمْ مِنْ ذُنُوبِكُمْ

“Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kalian.” (Al-Ahqaf: 31)

Perkataan mereka ini muncul dari kedalam ilmu bahwa nikmat teragung bagi hamba adalah dihapuskannya dosa dan diangkat kesalahan. Tidak ada yang dapat mengerti kedudukan nikmat ini kecuali mereka yang memahami makna dosa yang merupakan kezhaliman pada hak Allah ta’ala, kezhaliman pada dirinya sendiri dan kezhaliman pada semesta.

Pengaruh dosa tidak terbatas pada pelakunya saja tetapi mempengaruhi alam semesta di langit, bumi, pepohonan, pegunungan bahkan hewan-hewan. Itu baru pengaruh dosa yang dilakukan dirinya sendiri. Maka dosa yang yang mengakibatkan kezhaliman pada orang lain pengaruhnya lebih besar dan hukumannya lebih keras. Sebab itulah dosa terbesar setelah syirik pada Allah yaitu kezhaliman pada manusia dan merusaknya, seperti firman ta’ala:

الَّذِينَ كَفَرُوا وَصَدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ زِدْنَاهُمْ عَذَابًا فَوْقَ الْعَذَابِ بِمَا كَانُوا يُفْسِدُونَ

“Orang-orang yang kafir dan menghalangi (manusia) dari jalan Allah, Kami tambahkan kepada mereka siksaan di atas siksaan disebabkan mereka selalu berbuat kerusakan.” (An-Nahl: 88)


  1. Sunan At-Tirmidzi. Abu Isa berkata: Hadits ini gharib kami tidak mengetahuinya kecuali dari hadits Ali bin Mas’adah dari Qatadah. Diriwayatkan juga oleh Ahmad dalam Al-Musnad. Dalam riwayat Anas radhiyallahu ‘anhu berkata, bersabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam: “Setiap Bani Adam melakukan kesalahan maka sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan adalah yang bertaubat. Seandainya Ibnu Adam memiliki dua lembah harta tentu dia menginginkan tiga lembah. Dan tidak akan berhenti sampai tenggorokannya dipenuhi tanah”↩︎

  2. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari.↩︎

  3. Diriwyatkan oleh Bukhari dan Muslim.↩︎