Submitted by admin on Tue, 05/25/2021 - 16:53

Usaha memperbaiki fitrah manusia merupakan pekerjaan mengkilapkan dan mempersiapkan. Hamba ahli ibadah, dai, mujahid dan ulama merupakan warisan dari hasil manusia yang sempurna ini yaitu Rasulullah shalallahu alaihi wassalam. Mereka dengan iradah dan perjalanan kehidupannya bekerja untuk mewujudkan cinta dan ridha Allah. Tetapi, pencapaian mereka pada posisi ketinggian itu harus melewati proses seleksi terlebih dahulu.

Mereka adalah warisan nubuwah, setiap dari mereka merupakan bias dari cahayanya, makna dari segala makna-maknanya. Mengalir dalam dada mereka makna-makna dan iradah-iradah dari arus sungai nubuwah yang agung. Dari seluruh makna-makna ini mereka adalah kelompok yang telah terpilih dari hasil seleksi seperti firman Allah:

ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ

“Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.” (Fathir: 32)

Ayat dari surat Fathir ini, memiliki beragam tema. Membicarakan tentang beragam penciptaan makhluk dan pula beragam jenis seleksi pada hamba pewaris Nabi. Salah satu jenis seleksi, terbaginya berbagai macam amalan-amalan nubuwah selain al-wahyu al-kamil (wahyu yang sempurna) pada hamba-Nya.

Kami menyebut istilah al-wahyu al-kamil didasarkan pada sebuah hadits Nabi shalallahu alaihi wassalam :

ذهبت النبوة، وبقيت المبشرات

“Nubuwah telah hilang dan tersisa kabar-kabar gembira.” (Al-Musnad 7/526, Sunan At-Tirmidzi 2/123 No 2139, Shahih Ibnu Hiban 5/457 No 5945, Sunan Ibnu Majah 2/1283 No 3980, Majmu Az-Zawaij Wa Manba Al-Fawaid 7/361 No 11721 dari Umu Kurzi Al-Ka’biyah radhiyallahu anha.)

Sebab itu mimpi bisa menjadi bagian dari nubuwah seperti disebutkan dalam hadits lain.

Keterpilihan dari hasil seleksi merupakan anugerah ilahiyah, merupakan nikmat seperti nikmat-nikmat Allah ta’ala yang lain atas hamba yang wajib diperhatikan, dimengerti kemudian disyukuri. Hamba tidak akan bisa mensyukuri suatu nikmat sampai dia bisa mengerti makna-maknanya, merasakannya dan mengenali keistimewaannya.

Usaha memahami ini bukan pekerjaan sia-sia, tidak ada bedanya dengan mengenali nikmat-nikmat harta, kesehatan dan selainnya yang berupa nikmat materi. Setiap kenikmatan yang tidak dikenali manusia secara benar akan mengakibatkan peremehan, lalai mensyukuri dan lalai berdoa.