Submitted by admin on Thu, 07/01/2021 - 08:47

Sebaliknya, seperti telah dimaklumi, sebagian agama sesat justru dibangun di atas asas keputusasaan dari rahmat Allah, keyakinan asal usul manusia hakikatnya najis dan mewarisi dosa dari orang tuanya. Dengan prinsip-prinsip tersebut mereka meyakini tidak mungkin dapat terampuni dosanya dan tidak mungkin menjadi manusia yang baik.

Contohnya seperti asas agama nasrani dengan konsep penebusan dosa yaitu aqidah penyaliban. Kesalahan itu ditebus dengan penyaliban untuk penebusan dosa. Kesesatan menjadi asas agama tersebut kemudian puncaknya dengan kerusakan yang lebih parah dari asas sebelumnya, yaitu dosa akan diampuni dengan cara penyaliban. Inilah pemikiran Paulus dalam Injil modern.

Karena itulah, Allah ta’ala berfirman menjawab doa umat ini atas dosa yang mereka lakukan:

رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا

“Wahai Rabb kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami al-ishr apa yang tak sanggup kami memikulnya.” (An-Nisa: 286)

Dosa al-ishr (beban berat) merupakan hukum-hukum syariat yang berat, seperti firman Allah ta’ala:

فَبِظُلْمٍ مِنَ الَّذِينَ هَادُوا حَرَّمْنَا عَلَيْهِمْ طَيِّبَاتٍ أُحِلَّتْ لَهُمْ

“Maka disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi, kami haramkan atas mereka memakan makanan yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka.” (An-Nisa: 160)

Allah mengharamkan makanan yang dahulu halal bagi Yahudi setelah Allah memberikan kehalalan yang luas, kemudian Allah mengembalikannya menjadi hukum asal, lalu Allah mengharamkannya sebagai pengecualian dari asal. Allah berfiman setelahnya:

يُرِيدُ اللَّهُ لِيُبَيِّنَ لَكُمْ وَيَهْدِيَكُمْ سُنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَيَتُوبَ عَلَيْكُمْ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ ﴿٢٦﴾ وَاللَّهُ يُرِيدُ أَنْ يَتُوبَ عَلَيْكُمْ وَيُرِيدُ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الشَّهَوَاتِ أَنْ تَمِيلُوا مَيْلًا عَظِيمًا ﴿٢٧﴾ يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُخَفِّفَ عَنْكُمْ ۚ وَخُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيفًا ﴿٢٨﴾

“1. Allah hendak menerangkan (hukum syari'at-Nya) kepadamu, dan menunjukimu kepada jalan-jalan orang yang sebelum kamu (para nabi dan shalihin) dan (hendak) menerima taubatmu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. 2. Dan Allah hendak menerima taubatmu, sedang orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya bermaksud supaya kamu berpaling sejauh-jauhnya (dari kebenaran). 3, Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah.” (An-Nisa: 26-28)

Semua hal tersebut masuk dalam anugerah ilahiyah yang dirangkum dalam firman-Nya:

أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ﴿١﴾وَوَضَعْنَا عَنْكَ وِزْرَكَ﴿٢﴾الَّذِي أَنْقَضَ ظَهْرَكَ﴿٣﴾

“1. Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu? 2. Dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu. 3. Yang memberatkan punggungmu?” (Al-Insyirah: 1-3)

Allah telah membuat Nabi-Nya ma’shum dari dosa, yang merupkan derajat taubat paling agung seperti yang telah diterangkan sebelumnya. Kemudian Allah menjadikan dien-Nya dan syariat-Nya ringan tidak memberatkan seperti syariat umat sebelumnya. Semua karunia itu menandakan keagungan kedudukan Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam, syariatnya dan umatnya.