Submitted by admin on Fri, 06/04/2021 - 10:00

Dalam Al-Quran telah diterangkan keadaan orang yang tidak memiliki ketentraman tersebut, yaitu kesempitan dada dan linglung. Seseorang akan mengalami kesempitan dada yang paling berat ketika berbuat kesyirikan sebab syirik membuat dada menjadi sesak terhimpit-himpit seperti firman Allah ta’ala dalam surat Al-Haj:

حُنَفَاءَ لِلَّهِ غَيْرَ مُشْرِكِينَ بِهِ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِي بِهِ الرِّيحُ فِي مَكَانٍ سَحِيقٍ

“Dengan ikhlas kepada Allah, tidak mempersekutukan sesuatu dengan Dia. Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.” (Al-Haj: 31)

Kesyirikan akan menjadi suatu kebingungan atau tergulung-gulung dan saling berbenturan seperti firman ta’ala:

فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ

“Disambar oleh burung.”

Siapa yang dalam kondisi seperti itu maka selamanya dia tidak akan tetap dan tenang, tetapi terombang ambing. Jika dia tenang diam maka diamnya dalam kegelapan syirik seperti firman-Nya ta’ala:

أَوْ تَهْوِي بِهِ الرِّيحُ فِي مَكَانٍ سَحِيقٍ

“Atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.”

Selanjutnya Allah berfirman dalam surat Al-An’am:

قُلْ أَنَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُنَا وَلَا يَضُرُّنَا وَنُرَدُّ عَلَى أَعْقَابِنَا بَعْدَ إِذْ هَدَانَا اللَّهُ كَالَّذِي اسْتَهْوَتْهُ الشَّيَاطِينُ فِي الْأَرْضِ حَيْرَانَ لَهُ أَصْحَابٌ يَدْعُونَهُ إِلَى الْهُدَى ائْتِنَا قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَأُمِرْنَا لِنُسْلِمَ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ

“Katakanlah: ‘Apakah kita akan menyeru selain daripada Allah, sesuatu yang tidak dapat mendatangkan kemanfaatan kepada kita dan tidak (pula) mendatangkan kemudharatan kepada kita dan (apakah) kita akan kembali ke belakang, sesudah Allah memberi petunjuk kepada kita, seperti orang yang telah disesatkan oleh syaitan di pesawangan yang menakutkan; dalam keadaan bingung, dia mempunyai kawan-kawan yang memanggilnya kepada jalan yang lurus (dengan mengatakan): ‘Marilah ikuti kami’. Katakanlah: ‘Sesungguhnya petunjuk Allah itulah (yang sebenarnya) petunjuk; dan kita disuruh agar menyerahkan diri kepada Rabb semesta alam’.” (Al-An’am: 71)

Maksudnya; kesempitan dada dan saling berbenturan, kelinglungan dan tidak memiliki keteguhan, membuahkan kesedihan dan pecahnya kebaikan serta terhalang dari hidayah.