Submitted by admin on Wed, 05/11/2022 - 01:49

Para Nabi ketika memulai dakwah agar dakwahnya diterima mereka mengatakan:

وَمَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ ۖ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَىٰ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Rabb semeta alam.” (Asy-Syuara: 180)

Mukadimah dakwah tersebut dikatakan oleh seluruh Nabi sebagaimana disebutkan dalam surat Asy-Syuara. Karena ikhlas karena Allah akan membuka penerimaan. Tetapi jika dalam hati orang yang didakwahi terbesit anda menginginkan harta atau dunianya, mereka tidak akan menerima al-haq yang anda sampaikan. Tetapi dia akan tawar menawar denganmu. Karena itu, kecerdasan ratu Saba terlihat dengan mengirim hadiah kepada Sulaiman untuk memeriksa apakah Sulaiman menginginkan dunia atau dakwah kepada Allah ta’ala. Ratu itu berkata:

وَإِنِّي مُرْسِلَةٌ إِلَيْهِمْ بِهَدِيَّةٍ فَنَاظِرَةٌ بِمَ يَرْجِعُ الْمُرْسَلُونَ

“Dan sesungguhnya aku akan mengirim utusan kepada mereka dengan (membawa) hadiah, dan (aku akan) menunggu apa yang akan dibawa kembali oleh utusan-utusan itu.” (An-Naml: 35)

Dijawab oleh Sulaiman:

فَلَمَّا جَاءَ سُلَيْمَانَ قَالَ أَتُمِدُّونَنِ بِمَالٍ فَمَا آتَانِيَ اللَّهُ خَيْرٌ مِمَّا آتَاكُمْ بَلْ أَنْتُمْ بِهَدِيَّتِكُمْ تَفْرَحُونَ

Maka tatkala utusan itu sampai kepada Sulaiman, Sulaiman berkata: “Apakah (patut) kamu menolong aku dengan harta? maka apa yang diberikan Allah kepadaku lebih baik daripada apa yang diberikan-Nya kepadamu; tetapi kamu merasa bangga dengan hadiahmu.” (An-Naml: 36)

Dalam segala perkara, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selalu beramal dengan ikhlas dan mengharap negeri akhirat sehingga musuhnya tidak menemukan celah jika beliau mencari dunia. Sama sekali tidak ditemukan celah sepanjang kehidupannya beliau mencari dunia, bahkan Allah memberikan dua pilihan pada istri-istri beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dalam firman-Nya:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ إِنْ كُنْتُنَّ تُرِدْنَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا فَتَعَالَيْنَ أُمَتِّعْكُنَّ وَأُسَرِّحْكُنَّ سَرَاحًا جَمِيلًا * وَإِنْ كُنْتُنَّ تُرِدْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالدَّارَ الْآخِرَةَ فَإِنَّ اللَّهَ أَعَدَّ لِلْمُحْسِنَاتِ مِنْكُنَّ أَجْرًا عَظِيمًا

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu: "Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya kuberikan kepadamu mut'ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik. Dan jika kamu sekalian menghendaki (keridhaan) Allah dan Rasulnya-Nya serta (kesenangan) di negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik diantaramu pahala yang besar. (Al-Ahzab: 28-29)

Urusan ikhlas sekalipun rahasia antara hamba dan Rabbnya akan tampak indikasi yang terlihat dalam kehidupannya. Manusia tidak bisa melihat batin orang lain namun keindahan hati memiliki aroma wangi yang bisa dicium orang lain. Dengannya terpisah antara shalih dengan thalih, antara pencari dunia dengan orang yang tujuannya akhirat. Sebagaimana amalan seseorang tidak akan berbekas di semesta ini kecuali jika amalan itu shalih dan bermanfaat. Sedangkan syarat shalih dan bermanfaatnya suatu amalan adalah beramal dengan ikhlas seperti firman Allah ta’ala:

وَأَمَّا مَا يَنْفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِي الْأَرْضِ

“Adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi.” (Ar-Radu: 17)

Demikian siapa yang ingin namanya terangkat dan memberikan kemanfaatan bagi manusia hendaknya memperhatikan amalannya dan memeriksa dirinya apakah dalam beramal mencari dunia atau menginginkan pandangan orang lain.

Ayat ini terletak setelah menerangkan terbolak baliknya kondisi manusia antara susah dan mudah, antara waktu kosong dan waktu sibuk; dimaksudkan semua itu harus karena Allah. Jika dalam kesulitan maka karena Allah, jika dalam kemudahan juga karena Allah bukan seperti yang disifatkan Allah:

وَإِذَا أَنْعَمْنَا عَلَى الْإِنْسَانِ أَعْرَضَ وَنَأَىٰ بِجَانِبِهِ وَإِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ فَذُو دُعَاءٍ عَرِيضٍ

“Dan apabila Kami memberikan nikmat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri; tetapi apabila ia ditimpa malapetaka, maka ia banyak berdoa.” (Fushilat: 51)

Dan seperti firman-Nya:

قُلْ لَوْ أَنْتُمْ تَمْلِكُونَ خَزَائِنَ رَحْمَةِ رَبِّي إِذًا لَأَمْسَكْتُمْ خَشْيَةَ الْإِنْفَاقِ ۚ وَكَانَ الْإِنْسَانُ قَتُورًا

Katakanlah: "Kalau seandainya kamu menguasai perbendaharaan-perbendaharaan rahmat Rabbku, niscaya perbendaharaan itu kamu tahan, karena takut membelanjakannya". Dan adalah manusia itu sangat kikir. (Al-Isra: 100)

Dalam keadaan memperoleh kemudahan seorang mukmin bersyukur, dalam keadaan sulit dia bersabar dan mengharap akhirat sehingga semuanya karena Allah dalam segala kondisi.

Ayat ini datang di pungkasan surat setelah ayat-ayat sebelumnya yang telah kita jelaskan memiliki makna; menjelaskan akhir tujuan hamba adalah perjalanan menuju Allah. Hasil keberhasilan hanyalah perjumpaan dengan Allah ta’ala seperti yang dikatakan Yusuf alaihissalam setelah kesulitan dan derita yang dialami dalam firman-Nya:

مِن بَعْدِ أَن نَّزَغَ الشَّيْطَانُ بَيْنِي وَبَيْنَ إِخْوَتِي

“Setelah syaitan merusakkan (hubungan) antaraku dan saudara-saudaraku.” (Yusuf: 100)

Hasilnya adalah kenikmatan dengan firman-Nya:

رَبِّ قَدْ آتَيْتَنِي مِنَ الْمُلْكِ وَعَلَّمْتَنِي مِنْ تَأْوِيلِ الْأَحَادِيثِ

“Ya Rabbku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebahagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku sebahagian ta'bir mimpi.” (Yusuf: 101)

Dan ditutup dengan perkataannya:

فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَنْتَ وَلِيِّي فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ۖ تَوَفَّنِي مُسْلِمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ

“Rabb Pencipta langit dan bumi. Engkaulah Pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh.” (Yusuf: 101)

Ketika seorang mukmin mengalami kehidupan yang beraneka ragam, bergantian dari satu amal ke amal lainnya dari awal hingga akhir perjalanan hendaknya semuanya ditujukan pada Allah dengan niat ikhlas dan mencari pahala akhirat.