Submitted by admin on Tue, 01/25/2022 - 23:47

Kedudukan “pemuliaan nama” merupakan tuntutan orang-orang shalih, disimpulkan dari doa Ibrahim ‘alaihissalam:

وَاجْعَلْ لِي لِسَانَ صِدْقٍ فِي الْآخِرِينَ

“Dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian.” (Asy-Syuara: 84)

Persoalan ini kadang disalahpahami oleh sebagian orang karena dianggap tidak sesuai dengan prinsip tawadhu. Padahal kedudukan ini digalakkan oleh syariat tetapi dalam waktu bersamaan dia harus menghindar dari keingingan untuk viral. Dia harus mencapai kedudukan ikhlas dan lari dari riya. Seseorang bergabung menuju barisan orang-orang shalih dan mengajak manusia untuk mengikuti para ulama dan syuhada untuk amal akhirat bukan merupakan riya. Sebab riya adalah melakukan amalan dengan menginginkan ridha mereka, mencari kedudukan sumah dengan mengacuhkan nasib akhirat.

Keingingannya untuk masuk pada barisan shalihin dan ulama yang memberi petunjuk pada umat, mendoakan mereka dan memuliakan mereka bukan termasuk riya. Sebab itu, andai orang-orang memusuhi, mencela, dan mencercanya karena berpegang pada al-haq, maka dia tidak akan meninggalkan al-haq kerena dibenci orang banyak. Tidak sedikit orang yang meninggalkan al-haq karena takut dibenci, berbalik mengikuti apapun yang mereka inginkan dan mengalihkan wajahnya pada mereka.

Kita temukan, ulama-ulama jujur mendapat cobaan dari orang-orang sezamannya. Mereka menerima kesusahan atas al-haq yang mereka katakan dan mereka tidak mundur dari tetap berpegang teguh pada al-haq dan mendakwahkannya. Dengan teguhnya mereka diatas cobaan membuat manusia mengenal kejujuran tujuan mereka bahwa mereka tidak mencari ridha manusia, semata-mata mereka hanya mencari ridha Allah ta’ala. Akhirnya manusia mencintai mereka dan menempatkannya sebagai pemimpin ulama.

Salah satu indikasi yang menunjukkan amal ulama kita yang ingin bergabung dengan barisan para ulama mereka membuat karya tulis dalam dua bentuk; Pertama fatwa dalam persoalan-persoalan yang mendesak sedang dihadapi oleh umat di zamannya. Kedua karya ilmiah yang ditujukan sebagai kiprahnya bergabung dengan barisan ulama. Sebetulnya masih ada lagi bentuk karya lainnya yaitu karya sebagai hasil untuk latihan.

Dari seluruh bentuk karya tersebut, karya kedua yang paling banyak kita temukan. Sedangkan bentuk pertama walaupun banyak, tapi tidak sebanyak karya bentuk kedua. Allah telah memberkahi karya-karya dan buku-buku mereka dan menjadikannya sebagai sebab hidayah bagi orang-orang di zamannya dan setelahnya. Manusia selalu menjadikan fatwa-fatwa mereka dalam masalah kekinian sebagai rujukan. Bahkan karya-karya mereka menunjukkan atas ilmu penulisnya dan pengakuan manusia bahwa penulis pantas masuk dalam tingkatan ahlul ilmi di zamannya.

Orang-orang sekarang menjadikan ukuran keilmuan seseorang dengan banyaknya tulisan dan karya. Padahal ulama dahulu tidak pernah menjadikan banyaknya karya sebagai timbangan ilmu. Timbangan ulama dahulu adalah pencarian ilmu, riwayat dan pemahaman. Jadi setiap zaman tiap-tiap orang memiliki timbangan yang berbeda.

Salah satu dari fiqih “pemuliaan nama”, orang-orang yang memberikan petunjuk pada orang lain harus dari ahlul quran dan sunah yang lurus. Yaitu dengan cara menauladani para pemilik kedudukan ini dari para ulama, dai, aktivis amar maruf nahi mungkar dan mujahidin fi sabilillahi ta’ala. Inilah perkara yang harus dilakukan bagi siapa yang lisannya mengaku mencintai mereka. Dengan hal tersebut Allah akan mengangkat nama mereka dengan kehendak-Nya.

Sedangkan seorang muslim yang merendahkan ahlul haq dan pemilik kedudukan ini hakikatnya dia merendahkan agama. Sebab agama akan menjadi tinggi apabila pemeluknya juga tinggi, agama menjadi jernih dengan kejernihan pemeluknya. Maka wajib menyebut dan mengingat kebaikan pemilik kedudukan ini serta menutup ketergelinciran mereka. Tidak seperti yang terjadi pada hari ini. Sekarang apabila perkataan ahlus sunah hari ini dikumpulkan akan kita temukan perkataan-perkataan yang menjatuhkan serta menyingkirkan kedudukan ulama sebelumnya.

Mereka lebih sibuk dengan permusuhan diantara mereka sendiri daripada dengan musuh mereka. Jika mereka memuji orang lain, sebenarnya mereka memuji orang lain untuk memuji diri sendiri. Kalau tidak dia diam tidak mengakui kebaikan orang lain atau malahan mencela. Malahan orang-orang zindiq dan bidah mengangkat kedudukan ulama-ulama mereka dengan berbagai julukan dan sifat yang indah, tidak seperti yang dilakukan ahlus sunah dengan menjatuhkan ulamanya karena adanya hasad dalam hati mereka kecuali yang Allah rahmati. Sedangkan ahlu sunah masa lalu selalu memuliakan nama-nama ulama mereka.