Aku Bukan Salafy Bukan Salafy Jihady

menjadi pribadi tangguh

 

Submitted by admin on Mon, 02/18/2019 - 03:44

Tulisan-tulisan yang kita bukukan saat kita masih berwujud an-nukhbah (kelompok inti pengasas) dibangun diatas manhaj salaf lalu mengaitkannya dengan tauhid kekinian, yaitu dengan mengkufuri para thaghut al-khas al-muayyin (pemerintah yang menerapkan undang-undang buatan -pent).

Disisi lain wajib bagi an-nukhbah mencetak kader-kader yang beramal dengan amalan yang bisa dipahami umat lalu umat menerima panggilanmu. Mereka akan menerimamu jika kamu memang suni bukan takfiri. Maksudnya kamu meyakini masyarakat kita adalah muslim; shalat mereka sah demikin pula jihad mereka.

Seruan salafiyah yang kita bangun bukan berarti kita tidak berpijak di atas salafiyah para ulama ahlu sunnah seperti Malik, Asy-Syafii, Ahmad, Ishaq, Al-Auzay, Ats-Tsaury, Ibnu Mubarak, Ar-Razi dan imam lainnya. Pada jihad kita, kita memang tidak menggembor-gemborkan untuk mengkafirkan thaghut. Karena kita memerlukan bahasa yang gampang dimengerti masyarakat agar mereka mudah bersatu.

Sebuah catatan ilmiah saya tambahkan di sini yang tidak berkaitan dengan pembahasan jamaah-jamaah jihadiyah. Hanya ilmiah saja sebagai obat bagi umat secara umum yaitu membedakan antara salafiyah dan salafiyun.

Salafiyah adalah manhaj sedangkan salafiyun ialah yayasan atau gerakan yang bermula dari yayasan atau lembaga. Karena itu jika kamu meneliti kitab-kitab ulama senior kamu tidak akan menemukan perkataan mereka: Si fulan salafy. Tetapi mereka mengupas tentang salafiyah dalam ilmu, manhaj dan metode. Artinya seluruh ulama dan para imam madzhab masuk dalam ranah ini.

Sebab itu dari sisi ilmiah saya menganggap kata salafy atau salafiyun itu batil. Yang benar salafiyah sebagai konsep ilmu. Saya bukan salafy karena hari ini salafy menjadi sebuah mazhab, lembaga atau yayasan. Dan saya bukan salah satu dari mereka. Tetapi saya memahami dien ini dengan manhaj salafiyah, yaitu metode yang dipahami oleh para imam rahimahumullah.

Karena itu ketika beberapa jamaah jihad karena kebodohannya merekrut masyarakat bergabung pada tanzhimnya dan kepemimpinannya karena mereka berjihad sedang orang lain tidak berjihad saat hukum jihad membutuhkan umat seperti yang terjadi di Syam dan tempat lain, maka saya tegaskan; saya bukan jihadis.

Maksudnya saya (berjihad) bukan karena anggota tanzhim mereka, tetapi saya adalah muslim yang beriman dengan kewajiban jihad. Faridhah pada setiap kepala yang mengaku muslim. Aku ulangi kembali pernyataan ini supaya tidak ada yang salah paham.

Dengan prinsip seperti ini tidak berarti saya menafikan gerakan an-nukhbah. Namun saya menginginkan gerakan an-nukhbah yang dicintai ulama. Saat sebagian ulama absen maka ulama lain akan mengisi kekosongannya. Atau salah satu dari mereka bangkit mengarahkan umat untuk jihad melawan musuh-musuh Allah.

Bersikap dengan imbang itu sulit, mencapainya juga berat. Tapi harus kalian ingat ini adalah penyakit tanzhim. Harusnya kita bisa menggalang seluruh komponen masyarakat bukan hanya terbatas pada jamaah-jamaah jihad saja. Menggalang tokoh-tokoh masyarakat. Sebab itu semua komponen masyarakat Afghanistan berbaiat pada Taliban.

Sikap yang tidak imbang merupakan penyakit semua tanzhim-tanzhim yang menjangkiti hingga para syeikh. Saya telah menjelaskan lebih luas pada salah satu makalahku.

Sekarang muncul pertanyaan: Jika kondisinya seperti ini, setiap kelompok ingin masyarakat bergabung dengan jamaahnya, tidak ada kepemimpinan umat yang menggalang masyarakat untuk mencapai tujuan-tujuan iman (bukan kepentingan kelompok -pent), lalu apa yang anda kerjakan (wahai Syeikh)?

Jawaban saya: Meniup peluit (maksudnya sebagai penengah -pent). Karena saya meyakini jihad akan berkembang luas dalam waktu dekat, lalu negara-negara akan runtuh dan akan keluar dari umat ini kaum yang akan mewujudkan analisa yang pernah aku katakan.

Syeikh Abu Qatadah hafizhahullah pernah menyatakan kemungkinan munculnya kembali kelompok mirip Taliban yang akan mempersatukan umat di artikel yang telah kami terjemahkan dengan judul: Siapa Memecah Belah Setelah Sebelumnya Bersatu?

Saya tidak maksudkan akan muncul kloning Taliban di tempat lain. Sebab sejarah tidak akan terulang sama persis, tetapi akan terulang dengan beberapa kemiripan. Analisaku ini juga obat bagi serangan pemikiran ghuluw, obat pula bagi permusuhan keji yang aku lihat (pada kelompok-kelompok jihad -pent). Sampai di sini pena berhenti menulis karena air liurku telah memenuhi mulut.

Andai penyakit ghulu ini semakin tidak terkendali dan terlahir kembali Daesh (ISIS) dengan wujud yang baru, disaat bersamaan permusuhan antar tanzhim terus berlangsung maka orang-orang akan berbuat seenaknya sendiri dengan label aqidah seperti yang dilakukan teman-teman mereka dahulu. Akhirnya terbukalah pintu-pintu keburukan dan dendam pribadi. Seterusnya kita disibukkan dengan baku bantah. Sekarang saja rambutku sudah serasa dicabut satu persatu, lalu bagaimana jika problem ini makin parah?

Penulis: Syeikh Abu Qatadah Al-Falestini hafizhahullah
Penerjemah: Zen Ibrahim
13 Jumadil Akhir 1440 H / 18 Februari 2019
 

Tags

Artikel Terkait