Di Bawah Naungan Mega Mekah

menjadi pribadi tangguh

 

Submitted by admin on Sat, 08/18/2018 - 02:50

Kisah ini bermula saat Abul Ash menemui Nabi salallahu alaihi wassalam sebelum beliau diangkat menjadi nabi.

"Aku ingin menikahi Zainab Al-Kubra putrimu", pinta Abul Ash.
(Adab)

Nabi menjawab, "Aku nikahkan kau setelah mendapat izinnya."
(Syariat)

Nabi salallahu alaihi wassalam menemui Zainab berkata: "Sepupumu menemuiku dan menyebut namamu. Apakah kamu ridha menjadi suaminya?"

Memerah wajahnya senyumnya tersipu.
(Malu)

Nabi keluar menemui Abul Ash bin Ar-Rabi dan menikahkannya dengan Zainab agar bersemi cinta yang kekal. Zainab melahirkan anak, namanya Ali dan Umamah.

Setelah itu muncul problem besar!
(Aqidah)

Saat beliau diutus sebagai Nabi, Abul Ash sedang bersafar. Ketika ia kembali didapati istrinya telah masuk Islam.

Zainab berkata, "Aku punya informasi penting."

Abul Ash segera bangkit dan beranjak pergi.
(Penghormatan)

Zainab bergegas menyusul, dari balik punggungnya ia berkata, "Abi telah diutus sebagai Nabi dan aku telah masuk Islam."

Abul Ash mengatakan, "Mengapa kamu tidak meminta saranku terlebih dulu."

Zainab menjawab, "Aku tidak akan mendustakan abi. Abi bukan pendusta dan beliau terpercaya lagi amin. Bukan hanya aku, umi dan saudara kandungku juga telah masuk Islam. Sepupuku juga masuk Islam (Ali bin Abi Thalib), sepepumu juga (Utsman bin Afan) dan pula teman baikmu (Abu Bakar Ash-Shidiq)."

Abul Ash berkata, "Prinsipku, aku tidak mau orang-orang mengatakan Abul Ash telah menghinakan kaumnya, mengingkari leluhur dan tunduk pada istrinya. Ayahmu tidak bisa aku salahkan. Aku menguzhurmu silahkan ikuti prinsipmu."
(Diskusi dimulai)

Zainab berkata, "Siapa yang menguzhur jika aku tidak menguzhur diriku sendiri? Tetapi aku istrimu yang menunjukkan al-haq padamu."
(Memahamkan)

Kata-kata ini berkelana hingga 20 tahun lamanya.
(Bersabar karena Allah)

Abul Ash tetap dalam kekafiran hingga datang perintah hijrah. Zainab menemui Nabi salallahu alaihi wassalam memohon, "Wahai Rasulullah, apakah engkau izinkan aku tetap tinggal dengan suamiku?"
(Cinta)

Beliau salallahu alaihi wassalam mengizinkan.
(Kasih sayang)

Zainab tetap tinggal di Mekah sampai terjadi perang Badar. Abul Ash menjadi salah satu perajurit yang bergabung di barisan Qurays. Suaminya pergi memerangi ayahnya...

Kata Zainab dengan tangis sendu, "Ya Allah, aku takut saat terbit matahari nanti anak-anakku menjadi yatim atau aku kehilangan abi..."
(Galau akut antara harap dan khawatir)

Abul Ash bin Ar-Rabi tetap berangkat ke kancah Badar bersama barisan musyrikin. Perang usai dan Abul Ash berhasil ditawan muslimin. Informasi cepat sampai ke Mekah.

Zainab bertanya, "Apa yang dilakukan abi?"

Dijawab, "Kaum muslimin telah menang dan abimu sujud bersyukur pada Allah."

"Apa yang abi lakukan pada suamiku?", tanya Zainab kembali.

Mereka menjawab, "Mertuanya menawannya."

"Tolong antarkan tebusan untuk suamiku," ucap Zainab.
(Kelembutan)

Sayangnya, Zainab tidak memiliki uang untuk menebus suaminya. Akhirnya ia melepas kalung pemberian bundanya yang selama ini menghiasi dirinya kemudian mengirimnya pada Rasulullah salallahu alaihi wassalam.

Saat itu Nabi sedang duduk mengurus permohonan tebusan dan membebaskan tawanan. Ketika beliau melihat kalung sayidah Khadijah beliau bertanya, "Tebusan siapa ini?"

Mereka menjawab, "Sebagai tebusan Abul Ash bin Ar-Rabi."

Nabi lalu menangis, beliau bersabda, "Ini adalah kalung milik Khadijah."
(Kesetiaan)

Beliau bangkit dan berseru, "Wahai manusia, sesungguhnya laki-laki ini menantuku, mengapa tidak kita bebaskan saja dia?"
(Keadilan)

Beliau melanjutkan sabdanya, "Apakah kalian rela jika kalian kembalikan tebusannya pada istrinya?"
(Tawadhu seorang panglima)

Para sahabat menjawab serentak, "Siap wahai Rasulullah...!"
(Adab perajurit)

Maka Nabi menyerahkan kalung pada Abul Ash dan berpesan, "Bilang sama Zainab, jangan lagi dia lalaikan kalung Khadijah!"
(Abul Ash tsiqah pada akhlak padahal dia kafir)

Kemudian Nabi melanjutkan sabdanya, "Wahai Abul Ash bagaimana jika engaku terus kami tawan?"

Beliau menjauh darinya dan berkata, "Wahai Abul Ash, sesungguhnya Allah memerintahkanku memisahkan antara istri muslimah dengan suami kafir. Bagaimana jika engkau kembalikan putriku padaku?"

Dia menjawab, "Baik."
(Kejantanan)

Zainab segera menemui suaminya yang baru saja dibebaskan di pintu Kabah. Disambutnya istrinya dengan kalimat, "Aku akan pergi!"

"Kemana kamu hendak pergi?", tanya Zainab.

"Bukan aku yang pergi tapi kamu pergi pada abimu," jawab Abul Ash.
(Menunaikan janji)

Keheranan Zainab menanyakan penyebabnya, "Mengapa?" Abul Ash menjawab singkat, "Untuk memisahkan antara kita. Kembalilah pada abimu!"

"Bersediakan kamu menemaniku dan masuk Islam?," ajak istrinya.

"Tidak!" jawab Abul Ash.

Kemudian Zainab membawa putra dan putrinya menuju Madinah.
(Ketaatan)

Hari demi hari berlalu, tak terasa 6 tahun telah dilalui semenjak ia berpisah dengan suaminya. Beberapa sahabat mencoba untuk melamar Zainab. Tapi semuanya ditolak. Ia masih sangat berharap dapat kembali pada ayah anak-anaknya.
(Kesetiaan)

Suatu ketika, Abul Ash pergi berdagang ke Syam. Dalam perjalanan, kafilahnya di hadang oleh pasukan sahabat dan hartanya dirampas. Ia dibawa ke Madinah.

Abul Ash menanyakan alamat rumah Zainab, lalu menemuinya saat azan subuh mendayu.
(Tsiqah)

Zainab segera bertanya saat melihat Abul Ash, "Apakah kamu datang untuk masuk Islam?" (Berharap)

Abul Ash menjawab, "Justru aku datang untuk memerangi."

"Demi aku, mahukah kamu masuk Islam...," bujuk Zainab.
(Memohon dengan sejuta harap)

"Tidak!" tegas Abul Ash.

Sembari tersenyum Zainab berkata, "Kalau begitu jangan takut, keamananmu aku jamin. Marhaban, selamat datang wahai sepupuku, marhaban wahai abinya Ali dan Umamah."
(Keadilan)

Setelah Nabi mengimami shalat Subuh, suara terdengar dari belakang masjid, "Abul Ash telah dijamin keamanannya!"

Nabi bersabda pada para sahabat, "Apakah kalian mendengar apa yang aku dengar?"

Mereka menjawab, "Iya wahai Rasulullah."

Zainab berkata, "Wahai Rasulullah sesungguhnya Abul Ash jika dianggap orang jauh, dia adalah sepupuku. Jika dianggap orang dekat dia adalah ayah anak-anakku. Aku menjadi jaminan keamanannya wahai Rasulullah."

Maka Rasulullah salallahu alaihi wassalam berkata, "Wahai manusia, sesungguhnya laki-laki ini tidak aku jamin kecuali dia hanya menantuku. Dia telah berbincang denganku dan dia membenarkan ucapanku. Dia telah berjanji dan menunaikan janjinya padaku. Jika kalian sepakat, kembalikan seluruh hartanya dan pulangkan dia ke negaranya. Keputusan ini lebih aku senangi. Namun jika kalian menolak, silahkan putuskan karena keputusan ada pada kalian. Apapun keputusannya aku tidak akan mencela kalian!"
(Musyawarah)

Para sahabat berkata, "Kami taat dengan keputusanmu wahai Rasulullah!."
(Adab perajurit)

Maka Nabi bersabda, "Telah kami berikan keamanan orang yang engkau jamin wahai Zainab!"

Abul Ash kemudian menuju rumah Zainab. Rasulullah kemudian mengatakan, "Wahai Zainab, mulikanlah karena dia sepupumu dan keluargamu. Tetapi jangan biarkan dia mendekatimu karena dia tidak halal untukmu!"
(Kasih sayang dan syariat)

Zainab menjawab, "Baik wahai Rasulullah!."
(Taat)

Zainab pulang ke rumah dan menemui Abul Ash bin Ar-Rabi. Ia berkata, "Wahai Abul Ash, apakah kamu tidak takut perpisahan? Demi diriku, mahukah kamu masuk Islam dan tinggal bersama kami?"
(Cinta dan harapan)

Abul Ash menjawab, "Tidak!"

Lalu ia pamit kembali ke Mekah membawa hartanya.

Setelah sampai di Mekah dia memanggil penduduknya dan menyeru, "Wahai penduduk, ini harta kalian telah kembali dengan selamat. Apakah ada yang masih kurang?"

Mereka menjawab, "Semoga anda diberi balasan yang baik. Anda telah memenuhi janji dan menyampaikan amanat dengan baik."
(Fitrah manusia)

Abul Ash berkata, "Aku bersaksi tidak ada Ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah dan sesungguhnya Muhammad itu rasulullah."
(Nikmat)

Segera Abul Ash bertolak menuju Madinah. Ia masuk saat subuh dan langsung menemui Nabi. Dia berkata, "Wahai rasulullah, engkau kemarin telah membebaskanku dan sekarang aku datang padamu. Aku bersaksi tidak ada Ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah dan sesungguhnya anda itu rasulullah."
(Mengganti harta dengan yang lebih baik)

Abul Ash melanjutkan kata-katanya, "Wahai Rasulullah, apakah engkau mengizinkan aku kembali pada Zainab?"
(Cinta)

Nabi meraih tangan Abul Ash, ia bersabda, "Mari nak ikut aku!"

Nabi menggandengnya menuju rumah Zainab. Setelah tiba di depan rumahnya, beliau mengetuk pintu.

Zainab membukakan pintu, dilihat Abul Ash berdiri disamping Rasulullah. Nabi berkata, "Wahai Zainab, sesungguhnya sepupumu menemuiku pagi ini meminta izin rujuk padamu. Apakah kamu menerima?"
(Ayah yang bertanggungjawab)

Merona wajah Zainab tersinggung senyuman.
(Ridha yang tak lapuk ditelan zaman)

Setahun setelah pertemuan itu, Zainab meninggal dunia... Abul Ash menangis tanpa henti sampai-sampai para sahabat melihat Rasulullah menghiburnya dan menemaninya. Akhirnya Abul Ash berbicara pada Rasulullah, "Wahai Rasulullah, aku tak mampu melanjutkan mengarungi samudera kehidupan tanpa Zainab!"
(Teman setia sepanjang hayat)

Setahun kemudian Abul Ash, menyusul wafat.
(Ruh-ruh saling terkait)

Penulis: Syeikh DR. Abdullah Al-Muhaisini hafizhahullah
Penerjemah: Zen Ibrahim
5 Dzulqadah 1439 H / 7 Juli 2018

Tags

Artikel Terkait