Ketika Jannah dan Neraka Baku Bantah

menjadi pribadi tangguh

 

Submitted by admin on Sat, 12/15/2018 - 03:47

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dalam Shahihnya, dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata, bersabda Nabi salallahu alaihi wassalam:


 

تَحَاجَّتْ الْجَنَّةُ وَالنَّارُ فَقَالَتْ النَّارُ أُوثِرْتُ بِالْمُتَكَبِّرِينَ وَالْمُتَجَبِّرِينَ وَقَالَتْ الْجَنَّةُ فَمَا لِي لَا يَدْخُلُنِي إِلَّا ضُعَفَاءُ النَّاسِ وَسَقَطُهُمْ وَغِرَّتُهُمْ قَالَ اللَّهُ لِلْجَنَّةِ إِنَّمَا أَنْتِ رَحْمَتِي أَرْحَمُ بِكِ مَنْ أَشَاءُ مِنْ عِبَادِي وَقَالَ لِلنَّارِ إِنَّمَا أَنْتِ عَذَابِي أُعَذِّبُ بِكِ مَنْ أَشَاءُ مِنْ عِبَادِي وَلِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْكُمَا مِلْؤُهَا فَأَمَّا النَّارُ فَلَا تَمْتَلِئُ حَتَّى يَضَعَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى رِجْلَهُ تَقُولُ قَطْ قَطْ قَطْ فَهُنَالِكَ تَمْتَلِئُ وَيُزْوَى بَعْضُهَا إِلَى بَعْضٍ وَلَا يَظْلِمُ اللَّهُ مِنْ خَلْقِهِ أَحَدًا وَأَمَّا الْجَنَّةُ فَإِنَّ اللَّهَ يُنْشِئُ لَهَا خَلْقًا

 

"Jannah dan neraka berbantah-bantahan. Neraka berkata: 'Orang-orang congkak dan diktator memasukiku’. Jannah berkata, ‘Sedangkan aku, tidak ada yang memasukiku selain orang-orang lemah, orang kecil dan tidak memiliki kekuasaan’. Lalu Allah berfirman kepada jannah: 'Kamu itu hanyalah rahmat-Ku, denganmu Aku merahmati siapa saja yang Aku kehendaki dari hamba-hambaKu’. Selanjutnya Allah berfirman kepada neraka, 'Kau adalah siksa-Ku, denganmu Aku menyiksa siapa pun yang Aku kehendaki dan masing-masing dari kalian berdua berisi penuh.' Sedangkan neraka tidak terisi penuh, lalu Allah meletakkan kaki-Nya kemudian neraka berkata, 'Cukup, cukup, cukup’. Saat itu neraka penuh dan sebagiannya di himpun pada sebagaian yang lain dan Allah tidak menzhalimi seorang pun dari makhluk-Nya. Sedangkan jannah, Allah menciptakan penghuninya."

 

Siapa yang memperhatikan dengan seksama kehidupan pecinta dunia dan menyangka didalamnya penuh kenikmatan lalu menginginkannya adalah orang yang akalnya bodoh. Orang yang tidak mampu mencerna hikmah kehidupan. Namun orang yang cerdas akan menemukan kemewahan sebagai penyebab kehancuran dan menjauhkan dari dien. Dan mengejutkan bila para penguasa memiliki karakter suka bermegah-megahan seperti yang telah disinggung oleh Al-Quran mengenai beberapa penduduk negeri. Diantaranya firman Allah ta’ala:


 

وَمَا أَرْسَلْنَا فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَذِيرٍ إِلَّا قَالَ مُتْرَفُوهَا إِنَّا بِمَا أُرْسِلْتُمْ بِهِ كَافِرُونَ وَقَالُوا نَحْنُ أَكْثَرُ أَمْوَالًا وَأَوْلَادًا وَمَا نَحْنُ بِمُعَذَّبِينَ

Dan Kami tidak mengutus kepada suatu negeri seorang pemberi peringatanpun, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: ‘Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu diutus untuk menyampaikannya’. Dan mereka berkata: ‘Kami lebih banyak mempunyai harta dan anak-anak (daripada kamu) dan kami sekali-kali tidak akan diazab’. (Saba: 34-35)

Dan firman-Nya:


 

وَكَذَٰلِكَ مَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَذِيرٍ إِلَّا قَالَ مُتْرَفُوهَا إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَىٰ أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَىٰ آثَارِهِمْ مُقْتَدُونَ

Dan demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatanpun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: ‘Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka’. (Az-Zukhruf: 23)

Ayat pertama diatas dari surat As-Saba, berbicara tentang fitnah harta dan keluasan rizki. Mirip dalam kisah penduduk Saba saat Allah ta’ala berfirman:

لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ آيَةٌ

Sesungguhnya bagi kaum Saba' ada tanda (kekuasaan Allah) di tempat kediaman mereka”.(Saba: 15)

Terdapat bukti kaum Saba kufur nikmat saat mereka menjadi sombong dan merusak kenikmatan hidup. Sedang ayat kedua dari surat Az-Zukhruf, surat yang membawa makna ini, hikmah Allah soal pembagian rizki serta keadaan orang-orang yang bermewah-mewahan. Nama surat sudah mencerminkan tema ini yang di dalamnya terdapat ayat:

وَلَوْلَا أَنْ يَكُونَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً لَجَعَلْنَا لِمَنْ يَكْفُرُ بِالرَّحْمَٰنِ لِبُيُوتِهِمْ سُقُفًا مِنْ فِضَّةٍ وَمَعَارِجَ عَلَيْهَا يَظْهَرُونَ

Dan sekiranya bukan karena hendak menghindari manusia menjadi umat yang satu (dalam kekafiran), tentulah kami buatkan bagi orang-orang yang kafir kepada Allah Yang Maha Pemurah loteng-loteng perak bagi rumah mereka dan (juga) tangga-tangga (perak) yang mereka menaikinya”. (Az-Zukhruf :33)

Sebab itu orang-orang yang bermewah-mewah membenci dien. Selalu plin-plan karena kehilangan prinsip dan menerima warisan harta yang haram dari orang tua mereka. Mereka adalah golongan yang paling membenci jihad, sebab jihad menajadi penghadang syahwatnya. Jihad adalah api yang membakar serta ujian bagi ahlul iman. Diperlukan kesabaran dan yakin ada janji Allah. Padahal orang-orang yang membenci jihad adalah mereka yang mengejar harta dan yang suka hidup bermewah-mewahan; ahlu dunya. Hanya orang yang sabar yang mencintai jihad; yaitu orang-orang fakir, miskin dan lemah. Seperti firman Allah:

وَمَا لَكُمْ لَا تُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَخْرِجْنَا مِنْ هَٰذِهِ الْقَرْيَةِ الظَّالِمِ أَهْلُهَا وَاجْعَلْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّا وَاجْعَلْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ نَصِيرًا

Mengapa kamu tidak mahu berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa: "Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau!". (An-Nisa: 75)

Siapa saja yang mengamati sekeliling akan melihat sesuatu yang paling merusak kehidupan umat ialah jeratan orang-orang glamor. Mereka menjadikan umat seperti budak, menentukan derajat kedudukan serta memerangi jiwa mereka. Manusia lantang bersuara kembali pada Allah karena kezhaliman penguasa, kerusakan, otoriterisme, dan pemiskinan ekonomi. Sebab itu kamu akan melihat orang-orang fakir dan miskin berangan-angan untuk berangkat jihad. Karena mereka ingin memperbaiki ekonomi, mengembalikan kemuliaan, membebaskan diri dari musuh dan lepas dari kehinaan seperti kata Al-Mutanabi:



ذل من يغبط الذليل بعيش *** رب عيش ألذ منه الحمام

Terhinalah orang cemburu pada kehidupan orang-orang yang hina

Betapa banyak kehidupan yang lebih lezat dari hanya sekedar menjadi toilet


 

Hadits pada topik kita ini merupakan obat bagi jiwa mukmin yang tidak tertipu dengan apa yang dimiliki oleh orang-orang yang bangga dengan kemegahan; dunia yang mereka genggam. Kamu akan melihat lahiriyah mereka bahagia dengan harta, padahal sesungguhnya hartanya justru membuat mereka sempit karena kerusakan istri-istri mereka.

Hakekatnya istri mereka bukan miliknya. Seperti kisah istana kerajaan Mesir (kuno) sebagai rumah besar bagi orang-orang glamor. Tidak ada satupun yang terhindar dari kejahatan istri-istrinya. Bahkan mereka ridha karena merekapun melakukan perbuatan yang sama. Bisa jadi anak pimpinannya mengambil istrinya untuk menemani perbuatan bejatnya, dan dia tidak mampu menghalangi. Kasus seperti ini banyak sekali. Bisa jadi putri bosnya meminta menemaninya dan dia tidak mampu menolaknya.

Mereka kaum glamor adalah kombinasi dari hewan ternak, penyimpangan dan kerendahan. Karena itu hati mereka menghitam sampai membenci al-haq, tidak mencintai kesucian, jihad dan perbaikan masyarakat.

Kembalinya kehidupan masyarakat yang baik artinya kehilangan hobi kesenangannya. Barangsiapa yang melakukan perbaikan akan menegakkan jihad. Dan jihad cahaya penyingkap kegelapan, sungai api yang membersihkan kotoran-kotoran, api yang membakar kedustaan dan kerendahan. Sebab itu mereka ketakutan pada jihad yang berkobar di berbagai negara. Mereka takut kesenangan mereka akan sirna. Kondisi rumah kaca dibawah kekuasaan orang-orang kafir dan murtadin lebih mereka sukai. Kenyamanan selama mereka bersama orang-orang glamor, fajir dan penguasa mereka. Seakan-akan mendiamkan kehinaan mereka sendiri lebih baik daripada seseorang yang mati syahid secara mulia.

Jihad meskipun membakar negeri mewariskan kemuliaan, kekuasaan dan yang lebih agung dari itu jannah. Siapa yang memperhatikan kehidupan sahabat akan menemukan keterangan yang jelas. Mereka meskipun meninggalkan negaranya sendiri, lahan-lahan pertanian dan harta terabaikan tapi mereka mewariskan kerajaan-kerajaan dan negara serta menjadi catatan sejarah.

Perhatikan dirimu sendiri, jika kamu mencintai pertemuan dengan Allah kamu akan mencintai syariatnya, memahami qudrahnya. Jika kamu kamu tetap pada kenikmatan dunia, silahkan menangis semoga Allah merahmatimu.



والحمد لله رب العالمين

Penulis: Syeikh Abu Qatadah Al-Falestini hafizhahullah
Penerjemah: Zen Ibrahim
8 Rabiul Akhir 1440 H/15 Desember 2018
 

Artikel Terkait