Peringatan dari Ghuluw

menjadi pribadi tangguh

 

Submitted by admin on Tue, 09/11/2018 - 03:55

Alhamdulillahirrabil alamin, shalawat dan salam kepada hamba-Nya dan Rasul-Nya Muhammad dan atas para Nabi serta Rasul dan malaikat seluruhnya, wa ba’du:

Sesungguhnya umat sekarang berada dalam era shofwah Islamiyah (kebangkitan Islam) yang penuh berkah. Shofwah yang membangkitkan harapan kembali kaum muslimin pada kemuliaan dan kewibawaan. Inilah shofwah yang bergerak dengan memasangkan antara kitab yang memberi petunjuk dengan pedang yang menolong, yang menggabungkan antara hikmah dan kekuatan.

Dengan kedua sarana tersebut tersebarlah shofwah secara luas ke seantero negeri-negeri kaum muslim hingga membuat gembira para dai dan orang-orang yang menginginkan perbaikan. Tetapi dalam perjalanannya tidaklah mulus dengan kemunculan berbagai macam fitnah, ujian dan cabaran yang berusaha membelokkannya dari dakwah kepada Allah. Dan ini adalah sunatullah dan qudrah-Nya dalam dakwah. Allah befirman:

وَكَأَيِّن مِّن نَّبِيٍّ قَاتَلَ مَعَهُ رِبِّيُّونَ كَثِيرٌ فَمَا وَهَنُوا لِمَا أَصَابَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَمَا ضَعُفُوا وَمَا اسْتَكَانُوا ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ وَمَا كَانَ قَوْلَهُمْ إِلَّا أَن قَالُوا رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ فَآتَاهُمُ اللَّهُ ثَوَابَ الدُّنْيَا وَحُسْنَ ثَوَابِ الْآخِرَةِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Dan berapa banyak Nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar. Tidak ada do`a mereka selain ucapan: “Ya Rabb kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”. Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Ali-Imran: 146-148)

Dan firman Allah:

مَّا كَانَ اللَّهُ لِيَذَرَ الْمُؤْمِنِينَ عَلَىٰ مَا أَنتُمْ عَلَيْهِ حَتَّىٰ يَمِيزَ الْخَبِيثَ مِنَ الطَّيِّبِ ۗ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُطْلِعَكُمْ عَلَى الْغَيْبِ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَجْتَبِي مِن رُّسُلِهِ مَن يَشَاءُ

“Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga Dia menyisihkan yang buruk (munafik) dari yang baik (mukmin). Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kamu hal-hal yang ghaib, akan tetapi Allah memilih siapa yang dikehendaki-Nya di antara rasul-rasul-Nya.” (QS. Ali-Imran: 179)

Ujian terberat yang menimpa shofwah yang berkah ini sekarang adalah fitnah prinsip ghuluw dan orang-orang yang ghuluw yang keluar dari batasan syar’i dan kaidah-kaidahnya dalam bab takfir (pengkafiran), darah dan bersikap dengan kaum muslimin yang beda pendapat. Fitnah ini tidak hanya muncul di zaman kita saja, atau terbatas pada rentang dalam sebuah fase tertentu, atau hanya khusus muncul di umat ini saja. Tetapi ini adalah fitnah yang telah ada sejak zaman kuno menimpa para umat-umat sebelum kita dan tidak ada zaman yang selamat dari fitnah tersebut.

Allah berfirman:

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ وَلَا تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ إِلَّا الْحَقَّ

Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar.” (QS. An-Nisa: 171)

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: غَدَاةَ الْعَقَبَةِ وَهُوَ عَلَى نَاقَتِهِ «الْقُطْ لِي حَصًى» فَلَقَطْتُ لَهُ سَبْعَ حَصَيَاتٍ، هُنَّ حَصَى الْخَذْفِ، فَجَعَلَ يَنْفُضُهُنَّ فِي كَفِّهِ وَيَقُولُ «أَمْثَالَ هَؤُلَاءِ، فَارْمُوا» ثُمَّ قَالَ: «يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِي الدِّينِ، فَإِنَّهُ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمُ الْغُلُوُّ فِي الدِّينِ»

Dari Ibnu Abbas, Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam di pagi Aqabah bersabda di atas untanya: “Ambilkan aku kerikil. Maka aku mengambilkan tujuh buah kerikil untuk melempar. Saat beliau bersiap melempar beliau bersabda: ‘Permisalan mereka; Tembaklah!’ Kemudian beliau bersabda: Wahai manusia! Jauhilah ghuluw dalam beragama karena sesungguhnya kaum sebelum kalian hancur akibat ghuluw dalam ber-dien.” (Diriwayatkan oleh An-Nasai dan Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Al-Bani)

Syeikhul Islam rahimahullah berkata dalam Majmu Fatawa 3/383:

“Jika di zaman Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam dan Khulafaur Rasyidin muncul sekelompok orang rusak padahal ibadahnya kuat sampai-sampai Nabi shalallahu alaihi wa sallam memerintahkan untuk menggempurnya, seperti pula hari ini ada yang setia pada Islam atau sunnah tetapi hakikatnya mereka telah mencabik Islam dan sunnah. Mereka menyeru pada sunnah padahal bukan golongan ahlu sunnah karena mereka telah terpisah dari sunnah dengan beberapa sebab, diantaranya: ghuluw yang telah Allah cela dalam kitabnya, ia befirman:

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ وَلَا تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ إِلَّا الْحَقَّ ۚ إِنَّمَا الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ رَسُولُ اللَّهِ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَىٰ مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِّنْهُ ۖ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ ۖ وَلَا تَقُولُوا ثَلَاثَةٌ ۚ انتَهُوا خَيْرًا لَّكُمْ ۚ إِنَّمَا اللَّهُ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ سُبْحَانَهُ أَن يَكُونَ لَهُ وَلَدٌ ۘ لَّهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ وَكِيلًا

“Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al-Masih, Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: "(Allah itu) tiga", berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Ilah Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah menjadi Pemelihara.” (QS. An-Nisa: 171)

Dan firman:

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ غَيْرَ الْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعُوا أَهْوَاءَ قَوْمٍ قَدْ ضَلُّوا مِن قَبْلُ وَأَضَلُّوا كَثِيرًا وَضَلُّوا عَن سَوَاءِ السَّبِيلِ

Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus.” (QS. Al-Maidah: 77)

Bersabda Nabi shalallahu alaihi wa sallam:

إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِي الدِّينِ ، فَإِنَّمَا أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمُ الْغُلُوُّ فِي الدِّينِ

 

“Jauhilah sikap ghuluw (berlebih-lebihan) dalam agama, karena sesungguhnya yang mebinasakan orang-orang terdahulu sebelum kalian adalah berlebih-lebihan dalam agama.”

Berkata Syeikh Jamaludin AlQasimi rahimahullah dalam kitab Al-Jarah wa Tadil hal.4:

“Telah maklum dalam perjalanan suatu organisasi yang telah memiliki kekuatan sarana dan memiliki anggota yang banyak, harus ada di dalamnya manhaj-manhaj dasar yang disepakati dan muncul manhaj yang terpengaruh dari luar, harus ada kelompok orang-orang yang bersikap adil dan ada pula yang berlebih-lebihan, ada orang-orang yang ekstrim dan toleran. Dan sungguh ditemukan suara yang ekstrim lebih kuat dan santer didengar dan dipenuhi panggilannya. Sebabnya, karena sikap pertengahan itu kedudukan yang adil, hanya sedikit orang-orang yang bisa menjaganya di setiap zaman dan tempat. Sedangkan ghuluw, fatamorgananya terlalu banyak seolah-olah menjadi kelompok mayoritas. Pengikutnya juga lebih banyak terbagi menjadi beberapa tingkatan dan kelompok pemikiran. Kemudian dia menjadi tersisih, akhirnya tidak ada jalan untuk mengajak manusia kepada pemikirannya kecuali dengan cara yang ghuluw. Maka dia melakukan pemaksaan pada orang lain dan melenyapkan yang tidak mau mengikuti kehendaknya. Semua ini dilaksanakan menyesuaikan dengan kesempatan dan kemampuan baik dengan sarana pedang maupun dengan lisan”.

Kelompok pertama yang membuka pintu ini; yaitu pintu ghuluw dengan mencela pada orang-orang yang tidak sependapat adalah kelompok khawarij. Para pemimpin dan pengikutnya terjerumus dalam bab takfir untuk menghakimi orang-orang atau kelompok yang tidak setuju dengannya. Dengan takfir ini juga mereka membangun semangat persatuan korps antara mereka. Lalu penyakit ini menular pada orang lain. Akhirnya setiap kelompok yang ghulat (yang melampaui batas) mengkafirkan, memfasikkan, membid’ahkan, atau menuduh sesat orang lain. Sampai Allah membangkitkan para ulama-ulama untuk menghadang wajah orang-orang ghulat ini, membantah pemikirannya, membongkar kelompok kelompok ghuluw dan menghukumi kelompok-kelompok yang semisal dengan mereka.

Ghuluw adalah penyakit kronis dan penyebab dari berbagai macam sebab kerusakan serta kehancuran. Karena begitu parahnya bahayanya dan dampak yang besar pada kerusakan dan kehancuran, wahyu telah mewanti-wanti disertai penjelasan para ulama dan terdapat perintah untuk seimbang. Allah berfirman:

"Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus.” (QS. Al-Maidah: 77)

Diriwayatkan dari Imam Muslim dengan sanadnya dari Al-Ahnaf bin Qais dari Abdullah berkata: “Berkata Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam: ‘Hancurlah orang yang berlebih lebihan’. Beliau katakan tiga kali.”

Dan diriwayatkan Imam Al-Bukhari rahimahullah dari Abu Hurairah dari Nabi shalallahu alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya dien itu ringan dan tidaklah orang yang memberatkan dien kecuali dia akan terkalahkan. Maka istiqamahlah, mendekatlah sedekat mungkin, berilah kabar gembira dan meminta tolonglah pada pagi dan sore hari dan jam-jam terakhir malam.”

Diriwayatkan pula oleh Imam Al-Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata bersabda Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam: “Sekali-kali kalian tidak akan selamat karena amalan kalian. Sahabat bertanya: Termasuk anda wahai Rasulullah? Beliau menjawab: Aku juga tidak, tetapai Allah telah melingkupiku dengan rahmat. Istiqamahlah, mendekatlah sedeat mungkin dan mintalah pada pagi dan sore hari dan jam-jam terakhir malam serta carilah jalan sikap pertengahan.”

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata dalam Majmu Fatawa 3/236:

“Sesungguhnya dien Allah pertengahan antara ghuluw dan peremehan. Setiap Allah memerintahkan hamba dengan suatu perintah, setan pasti akan bergerak untuk menjebak pada dua pilihan antara ektrim dan peremehan, tidak peduli mana yang dipilih. Jika Islam, dien Allah yang Allah tidak menerima dien selain Islam; setan telah menjebak banyak pemeluknya sampai-sampai keluar banyak penyimpangan syariat. Bahkan lebih dari itu, setan berhasil menciptakan produk kelompok yang paling giat beribadah dan paling wara tetapi melesat keluar dari dien seperti anak panah melesat dari busurnya.”

Imam Ibnul Qayyim berkata dalam Madarijus Salikin 2/496:

“Setiap Allah menurunkan perintah, setan pasti akan menjebak pada dua pilihan; peremehan atau ekstrim. Sedangkan dien Allah itu pertengahan antara peremehan dan ghuluw seperti lembah di antara dua bukit, petunjuk di antara dua kesesatan dan pertengahan antara dua sisi yang tercela. Peremehan akan mengakibatkan pelalaian batasan-batasan Allah sedangkan ekstrim mengakibatkan pelampauan batas akan batasan-batasan Allah. Allah telah melarang ghuluw dengan firman-Nya:

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ غَيْرَ الْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعُوا أَهْوَاءَ قَوْمٍ قَدْ ضَلُّوا مِن قَبْلُ وَأَضَلُّوا كَثِيرًا وَضَلُّوا عَن سَوَاءِ السَّبِيلِ

Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus.” (QS. Al-Maidah: 77)

Ath-Thaahawi berkata dalam kitab aqidahnya: “Dien Allah di muka bumi dan di atas langit hanya satu yaitu dienul Islam. Allah berfirman:

إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam.“ (QS. Ali-Imran: 19)

Dan firman-Nya:

وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. (QS. Al-Maidah: 3)

Yaitu Dien pertengahan antara ghuluw dan peremehan, antara tasybih (penyerupaan) dan tatil (pengingkaran), antara jabariyah dengan qadariyah, antara merasa aman dari azab dan putus asa dari ampunan. Peringatan bahaya ghuluw dalam nash-nash syariat dan perkataan ulama sangatlah banyak.”

Jalan selamat dari ghuluw hanyalah dengan berpegang teguh pada kitab dan sunnah sesuai pemahaman salaful umat dan kembali pada pendapat ahlu ilmi yang jujur pada persoalan-persoalan yang rumit dan hukum-hukum nawazil seperti yang telah diterangkan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam. Allah ta’ala berfirman:

وَمَن يَعْتَصِم بِاللَّهِ فَقَدْ هُدِيَ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ

“Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (QS. Ali-Imran: 101 )

Dan firman-Nya:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ إِلَّا رِجَالًا نُّوحِي إِلَيْهِمْ ۚ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43)

Dan firman-Nya:

قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ ۖ فَإِن تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْهِ مَا حُمِّلَ وَعَلَيْكُم مَّا حُمِّلْتُمْ ۖ وَإِن تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا ۚ وَمَا عَلَى الرَّسُولِ إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ

Katakanlah: “Taat kepada Allah dan taatlah kepada rasul; dan jika kamu berpaling maka sesungguhnya kewajiban rasul itu adalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajiban kamu sekalian adalah semata-mata apa yang dibebankan kepadamu. Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan tidak lain kewajiban rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.” (QS. An-Nur: 54)

Dan diriwayatkan dari Imam Abu Dawud dengan sanadnya dari Abdurrahman bin Amru As-Silmi dan Hajar bin Hajar keduanya berkata: Kami mendatangi Al-Urbadh bin Sariyah, sahabat yang dibicarakan dalam ayat

وَلَا عَلَى الَّذِينَ إِذَا مَا أَتَوْكَ لِتَحْمِلَهُمْ قُلْتَ لَا أَجِدُ مَا أَحْمِلُكُمْ عَلَيْهِ

“Dan tiada (pula) berdosa atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata: "Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu.” (QS. At-Taubah: 92)

Kami mengucapkan salam dan mengatakan, kami menemuimu untuk menimba ilmu. Al-Irbadh berkata: “Suatu hari kami menunaikan shalat bersama Nabi shalallahu alaihi wa sallam, selesai shalat beliau menghadapkan tubuhnya pada kami dan memberi peringatan serta arahan yang sangat jelas membuat kami menangis dan menggetarkan hati kami. Seorang sahabat berkomentar, nasehat ini membuat kami terenyuh apa yang harus kami lakukan. Beliau bersabada: Aku wasiatkan bertakwa pada Allah, mendengar dan taat sekalipun kamu dipimpin oleh budak hitam. Karena siapa di antara kalian yang diberi umur panjang akan melihat perselisihan yang banyak. Hendaknya kalian di atas sunnahku dan sunnah khulafaur Rasyidin sepeninggalku. Genggam erat dan gigitlah dengan gigi gerahammu. Dan berhati-hatilah kalian dari setiap perkara yang baru dalam agama, karena setiap perkara yang baru dalam agama adalah bid’ah dan setiap yang bid’ah adalah sesat.” (Shahih Imam Al-Bani)

Diriwayatkan dari At-Tirmidzi dari Abdullah bin Amru berkata: Berkata Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam; “Sungguh akan menimpa umatku apa yang menimpa Bani Israil setapak demi setapak. Sampai jika mereka (Bani Israil) menzinahi ibunya sendiri sungguh umatku juga akan ada yang mengikutinya. Bani Israil terpecah menjadi 72 milah maka umatku terpecah menjadi 73 milah. Seluruhnya masuk neraka kecuali satu milah saja. Mereka berkata; siapa itu (yang selamat) wahai Rasulullah? Beliau bersabda: Siapa yang diatas manhajku dan para sahabat.” (Di hasankan oleh Imam Al-Bani)

Kembali pada ahlul ilmi dan orang-orang jujur serta mendengar arahan mereka adalah jalan selamat dari fitnah khawarij pertama di zaman Amirul Mukminin Ali radhiyallahu anhu saat para sahabat memenuhi seruan tinta umat Ibnu Abbas radhiyallahu anhu setelah terjadi diskusi antara mereka, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Al-Hakim dan lainnya.

Wajib bagi kita di zaman ini ketika membicarakan tentang ghuluw dan ghulat, membedakan antara takfir yang menjadi hukum syari, syarat-syarat dan penghalangnya dengan ghuluw dalam takfir. Takfir dalam tinjuaun hukum syari adalah bagian dari dien yang diterangkan dan ditetapkan hukumnya oleh para ahlul ilmi yang tsiqah. Ghuluw dalam takfir bukan bagian dari dien tetapi produk ahlul bid’ah dari kelompok khawarij dan lainnya yang menyelisihi ahlu sunnah dalam bab ini. Akhirnya mereka lancang mengkafirkan padahal masih ada hal yang syubhat, tersamar dan tidak dikafirkan.

Begitu pula harus dibedakan antara manhaj mujahidin yang jujur dengan manhaj ghulat yang mengaku mujahidin dalam persoalan darah yang boleh ditumpahkan. Para mujahidin yang jujur tidak mengucurkan darah kecuali dengan prinsip-prinsip aturan syariat dan berhati-hati. Sedangkan ghulat yang mengaku mujahidin mempermudah dalam persoalan ini dan tidak mengikuti kaidah-kaidah syariat. Mereka seperti yang disampaikan oleh Syeikhul Islam rahimahullah:

“Tetapi perbuaatan ahlu bidah, mereka berbuat bidah dalam perkataan kemudian menetapkannya menjadi suatu kewajiban dalam dien. Bahkan menjadikannya bagian dari keharusan iman demgan mengkafirkan orang yang berselisih lalu menghalalkan darahnya. Seperti yang dilakukan oleh khawarij, jahmiyah, rafidhah, mutazilah dan selainnya. Sedangkan ahlu sunnah tidak berbuat bid’ah dalam perkataan dan tidak mengkafirkan kesalahan ijtihad. Tapi kelompok khawarij, menghalalkan darah orang yang berselisih dengan mereka.” (Majmu Fatawa 19/212)

Maka wajib membedakan antara mujahidin yang berjihad fisabilillah yang menjadikan petunjuk salaful ummat sebagai pedoman dengan ghulat yang keluar dari barisan mujahidin lalu mereka menumpahkan darah mujahidin, mengkafirkannya, dan merusak jihad mereka sendiri dengan mengambil pendapat-pendapat dan ide bid’ah lalu menganggapnya sebagai dien dan menghukumi manusia dengannya.

Tindakan tidak membedakan antara mujahidin yang jujur dengan ghulat mengakibatkan orang-orang sesat memiliki kesempatan memburukkan citra jihad dan mujahidin untuk menghalangi dari fisabilillah dengan alasan; medan jihad hanya memproduksi orang-orang ghulat dengan bukti beberapa pemimpin jihad memberi pujian pada kelompok ghulat. Ini adalah talbis dan usaha menghancurkan citra mujahidin yang lurus.

Persoalan munculnya orang-orang ghulat bukan persoalan baru. Kemunculannya telah ada bahkan sejak zaman terbaik seperti yang kita singgung sebelumnya. Pujian para pemimpin jihad pada mereka hanya diucapkan saat mereka belum jatuh pada penyimpangan dan belum menampakkan mazhab ghuluw. Namun setelah mereka menampakkan mazhab ghuluw, mereka bara (berlepas) dan memberikan peringatan dengan peringatan yang keras dan menentangnya. Mereka juga berusaha meluruskannya kembali pada sunnah dan keadilan, mendudukkannya dan menerangkan penyimpangan manhaj mereka. Mereka juga menjelaskan bara manhaj ahlu sunnah dari ghuluw. Sikap ini jelas bagi siapa pun yang bersikap adil dan tidak ada yang mengingkari kecuali orang yang sombong.

Menerangkan dan memperingatkan bahaya ghuluw dari manhajnya dan dari pengikutnya dan membedakkan antara manhaj ghuluw dengan manhaj mujahidin yang jujur merupakan kewajiban prioritas di zaman ini yang orang-orang ghulat muncul dari barisan mujahidin seoalah-olah menggambarkan potret jihad dan mujahidin. Akhirnya musuh-musuh agama memiliki kesempatan memerangi mujahidin dan memperburuk citra jihad mujahidin. Sebenarnya persoalan ini telah banyak diterangkan oleh Syeikh Abu Musab As-Suri – semoga Allah memberikan jalan keluar – dalam banyak tulisannya.

Penulis: Syeikh DR. Sami Al-Uraidi hafizhahullah
Penerjemah: Zen Ibrahim
1 Muharam 1440 H / 11 September 2018
 

Artikel Terkait