Rahmat Allah pada Maksiat Ahlul Iman yang Belum Bertaubat

menjadi pribadi tangguh

 

Rasululllah salalallahu alaihi wassalam bersabda:

روى الإمام البخاري ومسلم رحمهما الله في صحيحهما من حديث قتادة رحمه الله أنه قال: عن صفوان بن محرز، قال: بينا ابن عمر يطوف، إذ عرض له رجل، فقال: يا أبا عبد الرحمن -أو قال: يا ابن عمر-، هل سمعت النبي صلى الله عليه وسلم في النجوى؟ فقال: سمعت النبي صلى الله عليه وسلم يقول: يدنى المؤمن من ربه حتى يضع عليه كنَفَه، فيقرره بذنوبه، تعرف ذنب كذا؟ فيقول: أعرف ربّ، أعرف- مرتين- فيقول: سترتها في الدنيا، وأغفرها لك اليوم، ثم تطوى صحيفة حسناته، وأما الآخرون -أو الكفار- فينادى على رؤوس الأشهاد: هؤلاء الذين كذبوا على ربهم ألا لعنة الله على الظالمين


 

Diriwayatkan dari Imam Al-Bukhari dan Muslim rahimahumallah dalam Ash-Shahih dari hadits Qatadah rahimahullah sesungguhnya dia berkata, dari Shofwan bin Muhriz dia berkata: Ketika Umar sedang thawaf seseorang mendatanginya. Dia bertanya, Wahai Abu Abdurrahman – atau wahai Ibnu Umar –, apakah engkau mendengar hadits Nabi salallahu alaihi wassalam mengenai pembicaraan rahasia? Dia menjawab, Aku mendengar Nabi salallahu alaihi wassalam bersabda: Seorang mukmin mendekat pada Rabbnya sampai Allah menurunkan tirai penutup. Lalu Allah mengungkapkan perbuatan dosa-dosanya. Allah berfirman, “Ingat perbuatan dosamu ini?” Dia menjawab, “Iya aku akui perbuatan itu wahai Rabb, aku akui – dia ulang jawabannya sebanyak dua kali –“. Lalu Allah berfirman: “Aku telah tutupi di dunia dan hari ini aku ampuni dosamu”. Disodorkanlah amal catatan kebaikannya. Sedangkan golongan lain – atau kafir – diseru diatas kepalanya sebuah persaksian:

هَٰؤُلَاءِ الَّذِينَ كَذَبُوا عَلَىٰ رَبِّهِمْ ۚ أَلَا لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الظَّالِمِينَ

"Orang-orang inilah yang telah berdusta terhadap Rabb mereka". Ingatlah, laknat Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zalim”. (Hud: 18)

Hadits yang membuat hati terenyuh menangis, menggetarkannya agar memohon ampunan melaju menuju cinta Ar-Rahman. Dialah Rabb pemilik kasih sayang, Dia menutupi dosa dan menerima taubat. Dia sangat sayang pada pada hamba melebihi sayang hamba itu pada jiwanya sendiri.

Pada hari yang agung tersebut, saat mentari didekatkan, manusia dikumpulkan, tidak ada tempat bergantung kecuali hanya pada Allah yang tidak ada perlindungan kecuali perlindungan-Nya, tidak ada sandaran kecuali harus bersandar pada-Nya, orang mukmin menemukan kenikmatan dalam lindungan Ar-Rahman dan sandaran. Allahuma berilah kami rahmat-Mu wahai Rabbul alamin.

Perhatikan kasih sayang Allah pada kaum mukminin.

Allah menutupi dosa hamba-Nya sewaktu di dunia. Betapa banyak dosa hati, lisan dan badan yang dilakukan, dosa yang membuat hamba malu bila terungkap. Lalu Allah mendahuluinya dengan menutupi dosa-dosanya itu sampai tidak ada yang mengetahuinya kecuali hanya Allah dan si pelaku. Bisa jadi hamba itu kemudian hari lupa pada dosa yang telah ia perbuat tapi Allah tetap menghitungnya. Atau bisa jadi terjadi penyelasan sehingga terhimpit dadanya takut bila terbongkar dan jatuhlah kewibawaannya di mata manusia.

Allah menutupi dosa-dosanya, Allah juga mencintai hamba yang menutupi dosanya sendiri. Dan Dia ridha seseorang menutupi kesalahan saudaranya. Karena sesungguhnya bila hamba menutupi dosa saudaranya yang ia pergoki Allah akan membalas dengan menutup dosa-dosanya. Itu karena perbuatan maksiat bertingkat-tingkat, paling buruk seseorang terang-terangan melakukan dosa. Semua kesalahan manusia diampuni kecuali mereka yang melakukannya dengan terbuka (al-mujahirin). Allah membenci hamba yang melakukan dosa lalu ia umumkan, seperti firman Allah:

إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat.” (An-Nur: 19)

Allah menutupi kesalahannya di dunia kemudian Allah menjadi sandarannya dengan menutupi kesalahannya di akherat. Aku menyangka perbuatan Allah ini tidak hanya terbatas pada hamba yang bertaubat tapi juga pada hamba yang belum bertaubat. Ini merupakan kenikmatan yang agung. Aku menyangka andai si hamba bertaubat di dunia maka dia tidak dicela di akherat, bahkan dianggap dia tidak melakukan dosa itu. Tetapi hamba ini belum sempat bertaubat di dunia, lalu terjadilah hisab. Saat itu Allah menurunkan tirai, mengajaknya berbicara yang tidak didengar oleh orang lain, hanya hamba dengan Rabb. Karena itu Allah berfirman padanya:

وأغفرها لك اليوم

Dan sekarang aku ampuni dosa-dosamu itu”.

Zhahir hadits, andai si hamba beristighfar dan bertaubat di dunia tentu Allah akan mengampuninya saat dia masih hidup sebelum kiamat (tapi Allah berfirman “sekarang” yaitu di hari hisab –pent), wallahu alam.

 

Lihatlah pada kesempurnaan keutamaan Allah

وتطوى صحيفة حسناته

Lalu disodorkanlah amal catatan kebaikannya”.

Bahkan amalan kebaikannnya tidak terhapus, tidak terkurangi akibat dosa yang ia perbuat. Maka dia saat masuk jannah dan menjadi viral bagi penduduk jannah sebagai pemilik berbagai kebaikan, masyarakat jannah tidak mengetahui perbuatan dosanya.

Semua ini merupakan bentuk rahmat Allah ta’ala pada ahlul iman. Mereka bukanlah malaikat yang tidak pernah salah, bukan orang mashum yang tidak mungkin terbebas dari dosa atau terjerembab dalam lumpur. Tetapi mereka adalah makhluk yang difirmankan Allah:

إِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللَّهِ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السُّوءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ يَتُوبُونَ مِنْ قَرِيبٍ

Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera”. (An-Nisa: 17)

Yaitu kebodohan diri, lupa dan lalai sesaat seperti yang menimpa kakek mereka Adam alaihissalam. Adam telah lupa begitu pula terwarisi pada anak cucunya.

Ini adalah rahmat Allah pada ahlu tauhid, rahmat-Nya pada ahlul Islam dan rahmatnya pada ahlul iman: Dia menutupi dosa dan mengampuni, tidak tersebut kecuali hanya kebaikan. Allah berfirman:

وَإِذَا جَاءَكَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِآيَاتِنَا فَقُلْ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ ۖ كَتَبَ رَبُّكُمْ عَلَىٰ نَفْسِهِ الرَّحْمَةَ ۖ أَنَّهُ مَنْ عَمِلَ مِنْكُمْ سُوءًا بِجَهَالَةٍ ثُمَّ تَابَ مِنْ بَعْدِهِ وَأَصْلَحَ فَأَنَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami itu datang kepadamu, maka katakanlah: "Salaamun alaikum. Rabb kalian telah menetapkan atas diri-Nya rahmah, (yaitu) bahwasanya barang siapa yang berbuat kejahatan di antara kamu lantaran kejahilan, kemudian ia bertaubat setelah mengerjakannya dan mengadakan perbaikan, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Al-An’am: 54)

Demi Allah, aku mendamba setiap muslim menghafal ayat ini dan mengulangnya minimal sehari sekali. Supaya ingat kewajiban Al-Quran yang memberi petunjuk bagi muslim saat melakukan kesalahan; Allah tidak membongkarnya, tidak mencelanya dan tidak menghinakannya. Tetapi Allah membuka padanya pintu roja’ (harapan), pintu maghfirah (ampunan) dan pintu firman-Nya

سَلَامٌ عَلَيْكُمْ ۖ كَتَبَ رَبُّكُمْ عَلَىٰ نَفْسِهِ الرَّحْمَةَ

Salaamun alaikum. Rabb kalian telah menetapkan atas diri-Nya rahmah.” (Al-An’am: 54)


Orang-orang yang tidak membuka pintu kasih sayang, tidak menutupi dosa saudaranya lalu mereka mengaku sebagai orang mukmin, maka betapa buruk klaim mereka.

Sekarang lihatlah sikap Allah pada orang-orang kafir: Allah bongkar seluruh dosa-dosa mereka dan diperlihatkan pada seluruh manusia agar deritanya makin perih, sempurna kehinaannya, kebenciannya dan celanya. Supaya diseru:

أَلَا لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الظَّالِمِينَ

Ingatlah, laknat Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zalim”. (Hud: 18)

Allah mengenal hamba-Nya dan kelemahan hamba-Nya itu. Dia juga mengenal kekuatan iradahnya dan ketidakberdayaannya saat iradahnya melemah. Maka Allah menguzur para hamba-Nya.

Sedangkan sebagian manusia mereka menguzur diri mereka jika melakukan kesalahan tetapi sebaliknya bersikap keras bagai batu dan tangan besi ketika menyikapi kesalahan orang lain.

 

والحمد لله رب العالمين

Penulis: Syeikh Abu Qatadah Al-Falestini hafizhahullah
Penerjemah: Zen Ibrahim
19 Rabiul Awal 1440 H/27 November 2018

Artikel Terkait