Wabah Ghibah Dikalangan Penuntut Ilmu dan Aktivis

menjadi pribadi tangguh

 

Imam Al-Qurthubi rahimahullah menyatakan kesepakatan para ulama ghibah termasuk dosa besar, suatu perbuatan haram yang merusak dien dan amal seseorang. Hakikat ghibah seperti yang dijelaskan oleh Nabi shalallahu alaihi wassalam:

ذكرك اخاك بما يكره

Menyebut-nyebut saudaramu sesuatu yang tidak ia sukai.”

Tatkala Nabi shalallahu alaihi wassalam ditanya:

أفرأيت إن كان في أخي ما أقول

Bagaimana bila yang aku sebut pada saudaraku itu benar adanya?”

إن كان فيه ما تقول فقد اغتبته،وإن لم يكن فيه فقد بهته

Beliau menjawab: “Bila itu fakta seperti yang kamu sebut kamu telah ghibah. Jika tidak benar kamu telah memfitnah.”

Penyakit ghibah sangat berbahaya dan telah mewabah di masyakarakat secara meluas terutama pada para penuntut ilmu dan orang-orang yang bersegera mengerjakan ketaatan pada Allah seperti mujahidin. Mereka tidak mewaspadai bahayanya serta tidak menganggapnya serius. Bahkan diantara mereka ada yang mengira bagian dari dien akibat ketergelinciran setan dan mengikuti hawa nafsu.

Akhirnya mereka mengangap ghibah bagian dari suatu penyampaian ilmu, upaya menyelisihi para penyimpang dan pelaku bidah. Anggapan tersebut salah bahkan tidak ada kebaikan kecuali mengikuti syahwat diri plus ghurur (ketertipuan) dan menonjolkan diri. Sedikit dari ghibahnya itu yang bisa diambil manfaat oleh masyarakat bahkan hampir-hampir tidak ada manfaatnya sedikitpun.

Perselisihan antar mazhab, soal baiat dan kelompok-kelompok jamaah wajib berdiri di atas garis ilmu. Orang-orang harus saling memperhatikan apa yang dikatakan ilmu supaya produk lisan bisa bermanfaat bagi makhluk. Sedangkan membongkar perihalnya, informasi dan amalanya untuk menjatuhkannya serta mencela pada diennya merupakan hawa nafsu, keburukan pribadi dan keburukan dien.

Parahnya, sahabatnya akan menyebarkannya lebih luas dengan berbagai tambahan. Setelah itu dia akan membantahnya tanpa ada manfaat bagi dien meskipun dengan alasan menyebarkan ilmu dan sunah. Inilah musibah zaman ini, ketergelinciran syeikh dan pemuda dalam perselisihan mazhab dan jamaah mereka.

Allah berfiman:

وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ

Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati?” (Al-Hujurat: 11)

 

Ayat pada surat Al-Hujurat ini datang mengupas hukum Allah ta’ala untuk menyelesaikan sengketa/konflik antar umat Islam yaitu pada firman-Nya:

وَإِن طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا

Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya!” (Al-Hujurat: 9)

 

Metode Al-Quran ketika menyebut hukum-hukum larangan suatu perbuatan diantaranya dengan menyebut teknis menghilangkan sarana kejahatan, seperti pada surat An-Nur pada subjek terapi kejahatan perzinahan. Di sini, setelah Allah ta’ala menerangkan metode menghilangkan sarana yang berpotensi menimbulkan permusuhan antar kaum muslimin, Allah meneruskannya dengan menetapkan suatu hukum larangan-larangan sebagai pencegahan perpecahan yang berpotensi pada peperangan. Allah subhanahu berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain.” (Al-Hujurat: 11)

 

Kemudian menyusul ayat lagi yang melarang keinginan untuk melakukan kejahatan perang yaitu firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa.” (Al-Hujurat: 12)

 

Sampai firman Allah:

وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا

Dan janganlah menggunjingkan satu sama lain.” (Al-Hujurat: 12)

 

Kedudukan dua ayat ini berkaitan dengan pelaku dan korban yang berseteru di lapangan dan pelaku yang melakukan kejahatan sekedar dalam hati. Firman Allah:

لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ

Janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain.” (Al-Hujurat: 11)

 

Berkaitan dengan pelaku dan korban yang berseteru secara langsung, yaitu seorang menghina dan yang lain balas merendahkan. Sedangkan firman Allah:

اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ

Jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan).” (Al-Hujurat: 12)

 

Berkaitan dengan pelaku yang melakukan kejahatan dalam hati.

Hari ini, kita menyaksikan terlalu banyak sengketa, konflik akut dan tidak ada upaya menghilangkan penyebabnya sampai masalah menjadi berlarut-larut. Perang mulut meledak jika hanya memiliki lisan, tapi jika kedua belah pihak memegang senjata terjadilah pertempuran.

Ayat menerangkan bagaimana mencegah kerusakan, diawali dengan menyebut perbuatan prasangka. Perbuatan ini muncul dari dalam hati manusia lalu berusaha meyakinkan dirinya dengan melakukan tajasus (penyelidikan) pada keburukan orang lain agar terbongkar aibnya. Bila ditemukan fakta ia akan mengungkapnya untuk menjatuhkan saudaranya. Dari sini makna ghibah dalam hadits.

Aktivitas tersebut akibat syahwat jiwa, termasuk dosa besar karena menjatuhkan saudaranya dengan membongkar keburukannya. Pelakunya disebut jahil yang tidak paham sunnah Allah ta’ala mengenai perkara ini. Orang yang suka mengikuti aurat manusia maka Allah akan mengikuti auratnya sampai di kolong rumahnya.

Jangan heran jika kamu melihat orang yang menjatuhkan orang lain ia akan jatuh pula, siapa yang menutupi aib manusia Allah akan tutupi ia. Barangsiapa yang meninggalkan kesempatan untuk mengikuti aurat manusia ia dalam perlindungan Allah dan penjagaan-Nya.

Ghibah adalah maksiat besar, tidak hanya merusak kebaikan seseorang dan mendapatkan keburukan yang luas tapi juga merusak nama baik seseorang, menyakiti seseorang tanpa ada solusi hingga terjadi permusuhan serta menyibukkan manusia dengan kejahatan dan fitnah. Dalam banyak kasus menimbulkan pertumpahan darah mashum (darah yang terlindungi).

Seseorang yang hobi membongkar aurat manusia akan membuatnya suka berdusta dan memproduksi informasi palsu. Keimanan adalah satu-satunya solusi.

Allahuma rahmatilah kami dengan kasih sayang-Mu. Siapa saja yang dalam hatinya tertambat negeri akherat akan menjauhi dosa ini, dan itu lebih selamat bagi dien dan kehormatannya.

Penulis: Syeikh Abu Qatadah Al-Falestini hafizhahullah
Penerjemah: Zen Ibrahim
12 Jumadil Akhir 1439/28 Februari 2018
 

Tags

Artikel Terkait